ranjana.id – Setiap tanggal 1 Mei, saat peringatan Hari Buruh Sedunia, satu lagu kerap berkumandang di berbagai aksi massa di seluruh dunia. Lagu itu adalah “Internasionale”—himne perlawanan yang telah menjadi simbol perjuangan kelas pekerja selama lebih dari satu abad. Di Indonesia, lagu ini memiliki sejarah unik yang terkait erat dengan tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara.
Asal-usul Lagu di Prancis
L’Internationale (judul aslinya dalam bahasa Prancis) lahir dari situasi politik yang bergolak di Prancis abad ke-19. Syairnya ditulis oleh Eugène Pottier, seorang penyair sekaligus tukang kayu yang terlibat aktif dalam Komune Paris—pemerintahan revolusioner kelas pekerja pertama di dunia yang berkuasa selama 72 hari pada tahun 1871.
Setelah Komune Paris dikalahkan oleh pasukan pemerintah Prancis, ribuan pendukungnya dibantai. Pottier sendiri dijatuhi hukuman mati in absentia dan terpaksa melarikan diri ke Amerika Serikat. Dalam masa pelariannya pada Juni 1871, ia menulis syair yang kelak menjadi terkenal di seluruh dunia.
Syair tersebut kemudian diberi musik oleh Pierre Degeyter, seorang komponis simpatisan sosialis, pada tahun 1888. Sejak saat itu, lagu ini menyebar luas di kalangan gerakan buruh internasional. Bahkan, pada periode 1922 hingga 1944, Internasionale menjadi lagu kebangsaan Uni Soviet sebelum digantikan oleh himne nasional yang baru.
Masuk ke Indonesia
Lagu Internasionale pertama kali dikenal di Hindia Belanda pada tahun 1920-an. Penerjemah pertama ke dalam bahasa Melayu (cikal bakal bahasa Indonesia) adalah Suwardi Suryaningrat, yang lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara.
Terjemahan tersebut pertama kali dipublikasikan di surat kabar Sinar Hindia No. 87, terbitan Sarekat Islam Semarang (yang dikenal sebagai “Sarekat Islam Merah”), pada tanggal 5 Mei 1920. Publikasi ini sengaja dimaksudkan untuk memperingati 1 Mei sebagai “Hari Raja oentoek segala kaoem Socialist”.
Menariknya, meskipun lagu ini identik dengan gerakan kiri, Ki Hadjar Dewantara bukanlah seorang komunis secara institusional. Ia bukan anggota Sarekat Islam Merah, bukan anggota ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeninging), maupun anggota PKI yang berdiri tahun 1924. Penerjemahannya lebih didorong oleh sikap anti-kapitalisme, anti-imperialisme, dan wawasan sosialisme yang dianutnya, serta keinginan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme di kalangan rakyat Hindia.
Budi Prihartanto dan Y. Edhi Susilo dalam tesis mereka menjelaskan bahwa Ki Hadjar Dewantara mencoba mencocokkan paham syair itu dengan kondisi di Hindia Belanda. “Usaha merelavankan dengan kebudayaan bangsa timur terlihat dalam beberapa bait sayir asli L’Internationale, yang sengaja digubah dalam sajian bermuatan makna kearifan yang dijunjung tinggi bangsa Timur”.
Lirik Saduran Ki Hadjar Dewantara
Berikut adalah lirik Internasionale versi saduran Ki Hadjar Dewantara yang dimuat di Sinar Hindia pada 1920:
Bangunlah kaum yang terhina!
Bangunlah kaum yang lapar!
Kehendak yang mulia dalam dunia
Senantiasa bertambah besar
Lenyapkan adat dan faham tua
Kita rakyat sadar! Sadar!
Dunia sudah berganti rupa
Untuk kemenangan kita
Perjuangan penghabisan
Kumpulah melawan
Internasionale
Pasti di dunia
Perkembangan dan Versi Lain
Seiring waktu, Internasionale di Indonesia mengalami beberapa kali penyaduran ulang dengan versi yang berbeda-beda.
Pada masa kepemimpinan PKI (1951-1965), lagu ini dipopulerkan dengan beberapa perubahan lirik. Namun, terjemahan ini mendapat kritik dari komunis internasional karena dianggap telah “menghilangkan roh proletariat”.
Pada tahun 1970, A. Yuwinu mengerjakan saduran baru berdasarkan teks bahasa Tionghoa dan bahasa Rusia, yang diumumkan pada 31 Mei 1970.
Dalam kesempatan memperingati 100 tahun Komune Paris, sekelompok pemerhati yang terdiri atas Soepeno (mantan anggota DPR), Utuy Tatang Sontani (sastrawan), Agus J., dan Suar Suroso juga melakukan penyaduran ulang dengan pendekatan pada terjemahan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa asli Prancis.
Era Orde Baru dan Pelarangan
Pada masa Orde Baru, Internasionale termasuk lagu yang dilarang karena dianggap “berbau komunis”. Pelarangan ini berlangsung lama sehingga lagu ini kurang dikenal oleh generasi muda Indonesia, berbeda dengan masa pemerintahan Bung Karno ketika lagu ini sering terdengar di mana-mana.
Penulis dalam sebuah analisis menyebutkan bahwa “di seluruh dunia, hanya di Indonesia di bawah Suhartolah lagu Internasionale dilarang atau ditabookan secara terang-terangan dan menjadi sikap politik yang resmi dari rejim Orde Baru”.
Dalam Peristiwa Sejarah
Internasionale memiliki jejak dalam berbagai peristiwa penting sejarah Indonesia. Pada 19 Desember 1948, Amir Sjarifuddin (mantan Perdana Menteri) bersama sepuluh tokoh lainnya menyanyikan “Indonesia Raya” dan “Internasionale” sesaat sebelum dieksekusi dalam peristiwa Clash Madiun.
Pada tahun 2006, lagu ini juga mengiringi prosesi pemakaman sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer di TPU Karet Bivak, Jakarta. Ratusan pelayat, termasuk Sitor Situmorang, Goenawan Mohamad, hingga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, hadir dalam prosesi tersebut.
Makna dan Relevansi
Secara universal, Internasionale menyerukan persatuan kelas pekerja melawan penindasan. Liriknya mengajak kaum buruh dan petani sedunia untuk bersatu melawan kapitalisme dan imperialisme.
Di Indonesia, saduran Ki Hadjar Dewantara memiliki keunikan tersendiri. Seorang peneliti mencatat bahwa Ki Hadjar “berusaha mengenalkan perjuangan kemerdekaan harus dimulai dari persatuan dan pengorbanan. Jiwa seperti itulah yang hendak ditularkan Suwardi melalui lagu L’Internationale untuk bangsanya”.
Seperti dikatakan Bung Karno pada tahun 1966: “Apa lagu Internasionale itu hanya dinyanyikan oleh komunis tok? Seluruh buruh! Komunis atau niet communist, right wing atau left wing, semuanya menyanyikan lagu Internasionale”.
Hingga kini, Internasionale tetap dinyanyikan dalam berbagai peringatan Hari Buruh, aksi demonstrasi, dan kegiatan serikat buruh di Indonesia—sebuah warisan perjuangan yang telah melintasi batas negara, ideologi, dan zaman. (Redaksi)






