Trivia  

Peristiwa Haymarket Square 1886, Tonggak Hari Buruh Sedunia

ranjana.id Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati May Day atau Hari Buruh Internasional. Di Indonesia, hari ini ditandai dengan aksi turun ke jalan oleh ribuan pekerja yang menyuarakan tuntutan kesejahteraan dan hak-hak ketenagakerjaan. Namun, di balik tradisi tersebut, tersimpan sejarah panjang yang berakar dari perpaduan antara ritual kuno dan perjuangan kelas pekerja modern.

Akar Tradisi Kuno May Day

Sebelum menjadi simbol perjuangan buruh, May Day telah ada sebagai tradisi perayaan kuno yang menandai pergantian musim. Istilah “May Day” sendiri berasal dari tradisi Eropa kuno yang merayakan datangnya musim semi.

Dalam tradisi bangsa Romawi kuno, terdapat festival Floralia yang diadakan untuk menghormati Flora, dewi musim semi dan bunga. Festival ini berlangsung dari tanggal 20 April hingga 2 Mei, dengan perayaan penuh warna dan tarian. Sementara itu, bangsa Celtic kuno menyebut perayaan serupa dengan nama Beltane, sebuah ritual suci yang menandai dimulainya musim panas dan dipenuhi dengan simbol-simbol kesuburan serta api unggun.

Ketika tradisi ini menyebar ke Inggris dan negara-negara Eropa Barat lainnya, perayaan May Day berkembang menjadi acara rakyat yang lebih sekuler. Ciri khasnya adalah tarian mengelilingi tiang kayu yang dihiasi bunga dan pita warna-warni, yang dikenal dengan sebutan Maypole. Tradisi ini menjadi simbol harapan akan panen dan keberkahan bagi masyarakat agraris Eropa.

Kelahiran Hari Buruh Modern

Makna May Day berubah drastis pada akhir abad ke-19, ketika revolusi industri menciptakan kondisi kerja yang sangat buruk bagi para buruh. Di Amerika Serikat dan Eropa Barat, buruh menghadapi kenyataan pahit: jam kerja mencapai 10 hingga 16 jam per hari, upah yang minim, dan lingkungan kerja yang tidak aman tanpa jaminan keselamatan.

 

Awal Mula Gerakan Buruh

Gerakan buruh Amerika mulai mengorganisasi diri pada tahun 1882. Pada September tahun itu, sekitar 20 ribu pekerja menggelar parade di New York sambil membawa spanduk bertuliskan slogan yang kemudian menjadi ikon gerakan buruh: “delapan jam kerja, delapan jam istirahat, dan delapan jam rekreasi”.

Tuntutan ini terus menguat hingga puncaknya pada 1 Mei 1886, ketika sekitar 300 hingga 400 ribu pekerja di seluruh Amerika Serikat melakukan mogok kerja besar-besaran menuntut penerapan jam kerja delapan jam sehari. Aksi ini berlangsung selama empat hari, dari tanggal 1 hingga 4 Mei 1886, dengan pusat gerakan berada di Chicago, salah satu kota industri terbesar saat itu.

Tragedi Haymarket Square, Chicago

Peristiwa yang menjadi titik balik sejarah Hari Buruh terjadi pada 4 Mei 1886 di Haymarket Square, Chicago. Saat itu, sekitar 1.500 orang berkumpul dalam aksi damai untuk memprotes tindakan polisi yang sebelumnya menewaskan beberapa buruh di pabrik McCormick.

Ketika suasana mulai tenang menjelang akhir demonstrasi, sebuah bom tiba-tiba dilemparkan ke arah barisan polisi. Ledakan itu menewaskan seorang polisi dan memicu baku tembak yang mengakibatkan tujuh polisi tewas serta puluhan warga sipil luka-luka.

Pasca-insiden, pihak berwenang menangkap delapan tokoh buruh dan anarkis, meskipun tidak ada bukti kuat yang menghubungkan mereka dengan pelemparan bom. Empat orang di antaranya dijatuhi hukuman mati, satu bunuh diri di dalam sel, dan tiga lainnya dipenjara. Mereka kemudian dikenal sebagai “Martir Haymarket” dan menjadi simbol pengorbanan dalam perjuangan hak-hak buruh.

Penetapan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional

Tiga tahun setelah tragedi Haymarket, pada tahun 1889, Konferensi Sosialis Internasional (International Socialist Congress) yang berlangsung di Paris, Prancis, menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional. Keputusan ini diambil untuk memperingati perjuangan para buruh yang gugur dalam insiden Haymarket serta untuk mendukung gerakan buruh di seluruh dunia.

Penetapan ini kemudian menyebar luas ke berbagai negara, terutama di Eropa, di mana peringatan 1 Mei dirayakan dengan demonstrasi dan aksi solidaritas pekerja. Di Uni Soviet dan negara-negara blok Timur, 1 Mei menjadi hari libur besar yang dirayakan dengan parade megah di Lapangan Merah Moskow, yang tidak hanya menghormati pekerja tetapi juga menjadi ajang unjuk kekuatan militer dan ideologi komunis.

Menariknya, Amerika Serikat—tempat asal mula gerakan ini—tidak menjadikan 1 Mei sebagai Hari Buruh nasional. Pada tahun 1894, Presiden Grover Cleveland menetapkan Hari Buruh (Labor Day) pada hari Senin pertama bulan September, untuk menjauhkan perayaan dari konotasi radikalisme yang melekat pada peristiwa Haymarket.

Sejarah May Day di Indonesia

Peringatan Hari Buruh di Indonesia memiliki dinamika tersendiri yang mencerminkan pergulatan politik dan sosial di tanah air.

Era Kolonial dan Awal Kemerdekaan
May Day pertama kali diperingati di Indonesia pada tahun 1920, pada masa penjajahan Belanda. Perayaan ini dilanjutkan setelah kemerdekaan, dan pada tahun 1948, Presiden Soekarno secara resmi menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Nasional melalui Undang-Undang Kerja Nomor 12, yang memberikan hak libur bagi para pekerja.

 

Era Orde Baru: Masa Kelam Peringatan Buruh

Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI), Hari Buruh mengalami nasib tragis. Pemerintah Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto mengidentikkan peringatan 1 Mei dengan gerakan komunis, sehingga melarang seluruh perayaan May Day.

Pada tahun 1967, Soeharto menghapus peringatan tersebut dengan mengganti nama Kementerian Perburuhan menjadi Departemen Tenaga Kerja. Serikat buruh yang tersisa dipaksa bergabung ke dalam Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) yang kemudian menjadi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI)—organisasi yang sangat dekat dengan pemerintah dan tidak independen.

Selama 32 tahun masa Orde Baru, peringatan 1 Mei lenyap dari ruang publik. Meskipun demikian, perjuangan buruh tidak sepenuhnya padam. Berbagai pemogokan dan tuntutan upah layak tetap terjadi, meskipun tidak dalam skala besar seperti era sebelumnya.

 

Era Reformasi: Kebangkitan May Day

Setelah jatuhnya Orde Baru pada tahun 1998, gelombang kebebasan berdemokrasi membawa angin segar bagi gerakan buruh. Pada 1 Mei 2000, ribuan buruh kembali turun ke jalan untuk pertama kalinya setelah lebih dari tiga dekade. Mereka menuntut agar 1 Mei dikembalikan sebagai Hari Buruh Internasional dan ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Perjuangan ini akhirnya membuahkan hasil pada tahun 2013, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2013.

 

May Day di Era Kontemporer

Sejak ditetapkannya sebagai hari libur nasional, peringatan May Day di Indonesia mengalami perkembangan signifikan. Setiap tanggal 1 Mei, ribuan buruh dari berbagai wilayah seperti Tangerang, Bogor, dan Bekasi melakukan aksi unjuk rasa di Jakarta dengan membawa beragam tuntutan, mulai dari kenaikan upah minimum, penghapusan sistem outsourcing, hingga jaminan sosial ketenagakerjaan.

Peringatan May Day di Indonesia tidak hanya diikuti oleh kalangan buruh, tetapi juga mahasiswa, aktivis organisasi kepemudaan, dan masyarakat umum yang mendukung perjuangan keadilan sosial bagi para pekerja.

May Day vs Mayday: Perbedaan Istilah yang Sering Tertukar

Penting untuk membedakan antara May Day (Hari Buruh) dengan Mayday (sinyal darurat). Meskipun terdengar mirip, keduanya memiliki makna yang sangat berbeda.

Mayday adalah sinyal darurat internasional yang digunakan dalam komunikasi radio, terutama di dunia penerbangan dan pelayaran. Istilah ini berasal dari bahasa Prancis “M’aidez” yang berarti “tolong saya”. Mayday pertama kali diperkenalkan pada tahun 1923 oleh seorang petugas radio di Inggris dan digunakan dengan mengulanginya tiga kali berturut-turut untuk menandakan situasi darurat yang membutuhkan bantuan segera.

Makna dan Relevansi May Day Hingga Kini

May Day telah berkembang dari akar tradisi pagan kuno menjadi simbol global perjuangan kelas pekerja. Perayaan ini tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang pengorbanan para martir Haymarket, tetapi juga untuk menyuarakan isu-isu ketenagakerjaan kontemporer seperti upah layak, jaminan sosial, keselamatan kerja, dan penghapusan praktik outsourcing.

Di berbagai negara, May Day dirayakan dengan beragam cara: ada yang menggelar pawai demonstrasi, ada yang merayakan dengan piknik dan pesta rakyat, namun esensi yang sama tetap terjaga—yaitu solidaritas dan penghormatan terhadap kontribusi para pekerja dalam pembangunan ekonomi dan sosial.

Bagi Indonesia, May Day telah menjadi bagian penting dari kalender demokrasi, di mana hak berserikat dan berkumpul yang selama tiga dekade dibungkam kini dapat diekspresikan secara bebas. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan sosial dan kesejahteraan pekerja adalah perjuangan yang tak pernah usai.

Sejarah May Day adalah cerminan dari perjalanan panjang peradaban manusia dalam menghargai martabat pekerja. Dari festival pemujaan dewi musim semi di era Romawi kuno, hingga tragedi berdarah di Haymarket Square Chicago, dan perjuangan panjang para buruh Indonesia melawan rezim otoriter—semuanya bermuara pada satu titik: pengakuan bahwa setiap pekerja berhak mendapatkan kehidupan yang layak, adil, dan bermartabat.

Hingga kini, setiap 1 Mei, teriakan tuntutan dan semangat solidaritas yang bergema di jalanan Jakarta dan berbagai kota di dunia adalah kelanjutan dari semangat yang sama yang telah diperjuangkan oleh para buruh sejak lebih dari satu abad lalu. May Day bukan sekadar hari libur, melainkan simbol perlawanan dan harapan bagi kaum pekerja di seluruh dunia. (Redaksi)