ranjana.id – Hebron | PBB menyatakan sekitar 3.000 warga Palestina masih mengungsi dari dua lingkungan di Kota Hebron, Tepi Barat yang diduduki. Pengungsian tersebut terjadi di tengah operasi pasukan Israel dan pembatasan pergerakan di wilayah tersebut.
Juru Bicara PBB Shirin Yaseen pada Kamis, 29 Oktober 2026, mengatakan angka tersebut berdasarkan data terbaru yang disampaikan pemerintah Kota Hebron. Ia mengutip informasi dari mitra-mitra kemanusiaan PBB, dilansir dari Anadolu.
Yaseen menyampaikan bahwa pasukan Israel masih beroperasi di dua lingkungan tersebut. Pasukan Israel juga memblokir akses masuk dan memberlakukan pembatasan pergerakan secara ketat di seluruh wilayah kegubernuran Hebron.
Operasi tersebut berdampak terhadap kehidupan masyarakat Palestina. Akses warga terhadap mata pencaharian, pendidikan, dan layanan kesehatan dilaporkan terganggu akibat pembatasan yang diberlakukan.
Baca juga:Vatikan Tegaskan Dukungan Solusi Dua Negara untuk Konflik Israel-Palestina
“Kami sekali lagi menyerukan perlindungan bagi warga Palestina di seluruh wilayah Tepi Barat,” kata Yaseen. Selain kondisi di Hebron, PBB juga menyoroti serangan terhadap tempat-tempat ibadah.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) sebelumnya merilis laporan mengenai perusakan tempat ibadah di Tepi Barat. Menanggapi laporan tersebut, Yaseen menyebut sebanyak 14 masjid dirusak oleh pemukim Israel sepanjang tahun ini.
Yaseen menegaskan bahwa serangan terhadap tempat ibadah tidak dapat diterima. Ia mengatakan tempat-tempat ibadah harus aman dan kebebasan beragama perlu dijamin di seluruh wilayah, bukan hanya di kawasan tertentu. (*)






