Qatar Dan Prancis Desak Gencatan Senjata Gaza Dan Pembukaan Selat Hormuz

Presiden Prancis, Emmanuel Macron Dan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani | Foto: X - @TamimBinHamad

ranjana.id – Doha | Qatar dan Prancis menyerukan pemulihan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz serta pelaksanaan gencatan senjata di Jalur Gaza. Seruan tersebut disampaikan setelah Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron di Doha.

Dalam pernyataan bersama pada Rabu, kedua pemimpin menekankan pentingnya memulihkan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz tanpa batasan atau biaya. Mediator Qatar, Ibrahim bin Sultan Al Hashmi, mengatakan upaya diplomatik terus dilakukan untuk meredakan ketegangan dan membuka kembali jalur pelayaran.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran siap memberikan kesempatan lain bagi diplomasi. Qatar dan Prancis juga mengecam serangan militer Iran terhadap negara-negara di kawasan yang dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Melansir dari Al Jazeera, Kamis, 22 Oktober 2026, kedua pemimpin turut membahas situasi di Jalur Gaza. Mereka menyerukan penarikan pasukan Israel sesuai dengan pengaturan yang telah disepakati.

Kedua negara juga mendesak penyaluran bantuan kemanusiaan secara cepat dan aman, tanpa hambatan maupun pembatasan. Program Pangan Dunia PBB (WFP) pada Senin menyatakan sekitar 1,4 juta penduduk Gaza menghadapi kerawanan pangan akut.

Jumlah tersebut setara dengan dua pertiga dari total populasi Gaza, dengan kondisi pangan berada pada tingkat krisis atau lebih buruk. Qatar dan Prancis juga menolak segala bentuk aneksasi Tepi Barat.

Kedua negara menyerukan penghentian kebijakan pembangunan permukiman Israel serta kekerasan yang dilakukan oleh para pemukim. Terkait Lebanon, Qatar dan Prancis mendukung pelaksanaan penuh Perjanjian Kerangka Kerja Tripartit untuk memulihkan kedaulatan negara tersebut.

Kesepakatan itu mencakup pelucutan senjata Hizbullah dan penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Lebanon. Kedua negara memperingatkan risiko kekosongan keamanan setelah berakhirnya mandat misi penjaga perdamaian PBB di Lebanon.

Mereka juga menyerukan agar dukungan internasional terhadap otoritas dan angkatan bersenjata Lebanon tetap dilanjutkan. Mengenai Suriah, Qatar dan Prancis menyatakan kesiapan bersama-sama mendukung proyek stabilisasi dan pemulihan ekonomi yang dikoordinasikan dengan otoritas setempat. (*)