Usai Tiga Dokter Magang Meninggal, Kemenkes Investigasi RS Wahana

Dirjen SDM Kesehatan dr Yuli Farianti | Foto : YouTube Kemenkes

ranjana.id – Jakarta | Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menginvestigasi rumah sakit wahana tempat dokter magang setelah tiga peserta program tersebut meninggal dunia. Langkah itu juga diikuti dengan evaluasi kebijakan terkait penyelenggaraan program magang dokter.

“Kami akan melakukan investigasi di seluruh rumah sakit wahana. Selain itu, memperbaiki kebijakan yang diperlukan,” kata Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan (Dirjen SDMK) Kemenkes, Yuli Ferianti saat konferensi pers Update Kasus Campak di Jakarta, Senin, 30 Maret 2026.

Ia menegaskan tiga kasus kematian dokter magang tersebut tidak disebabkan oleh kelebihan beban kerja seperti yang ramai diperbincangkan di media sosial. Yuli menyebut dokter magang di RSUD Pagelaran sempat menangani pasien suspek campak sebelum mengalami demam, flu, batuk.

“Tidak ditemukan indikasi kelebihan beban kerja akibat jadwal jaga. Total jam kerja masing-masing kurang dari 40 jam per minggu. Peserta sempat diberikan izin sakit, tetapi tetap bekerja karena ingin menyelesaikan tugasnya,” ucap Yuli menjelaskan.

Lebih lanjut, Yuli menyebut kondisi peserta memburuk hingga mengalami penurunan kesadaran dan dinyatakan meninggal dunia pada 26 Maret 2026. Ia juga mengatakan pasien di diagnosis campak disertai gangguan jantung dan otak.

“Jadi memang peserta magang mengalami demam, nyeri, diare dan di duga memiliki riwayat anemia sebelum dirujuk ke rumah sakit. Peserta dirawat di IGD lalu dirujuk ke RSUD dr Soetomo Surabaya sebelum meninggal 25 Maret 2026,” ucap Yuli.

Sementara itu, kasus ketiga terjadi pada peserta magang yang mengalami demam dan kemudian dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Denpasar. Menurut Yuli, ketiga kasus tersebut menjadi evaluasi bagi Kemenkes, rumah sakit wahana, serta para pembimbing untuk meningkatkan pengawasan terhadap peserta magang.

“Diagnosis akhirnya adalah demam berdarah dengan komplikasi syok. Ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar komunikasi dengan peserta dan keluarga lebih aktif serta mencegah perawatan mandiri,” ucap Yuli.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi satu kasus suspek campak pada dokter berinisial AMW (26) di Cianjur. Hal tersebut memicu kewaspadaan penularan masyarakat luas.

Kepala Biro Kesehatan Aji Muhawarman menyebut pasien mengalami demam, ruam merah, dan sesak napas yang semakin memburuk. “Pasien diduga mengalami penyakit campak dengan komplikasi pneumonia yang memperburuk kondisi kesehatannya,” kata Aji Muhawarman saat dikonfirmasi, Jumat, 27 Maret 2026.

Berdasarkan hasil investigasi sementara, Aji menyebut kondisi pasien terus menurun hingga akhirnya dirawat di RSUD Cimacan pada 26 Maret 2026. Ia mengatakan tim medis disebut telah memberikan penanganan sesuai standar yang berlaku. (*)