Tiongkok Ajak ASEAN Intensifkan Kerja Sama Energi Hijau Atasi Krisis Energi

Duta Besar Tiongkok Untuk ASEAN, Wang Qing | Foto : Istimewa

ranjana.id – Jakarta | Tiongkok mengajak negara-negara ASEAN mengintensifkan kerja sama energi hijau, dalam menghadapi krisis energi yang ditimbulkan akibat perang di Timur Tengah. Ajakan tersebut disampaikan Duta Besar Tiongkok untuk ASEAN, Wang Qing, dalam media salon, Kamis, 26 Maret 2026 di Jakarta.

Wang menyebut, meski terdampak pada penutupan Selat Hormuz akibat perang yang melanda Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS). Namun, ia memastikan Tiongkok tidak mengalami krisis energi, dikarenakan telah menerapkan transisi energi sejak beberapa tahun terakhir.

“Sekarang kami berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengatasi tantangan ini. Saya rasa sekarang lebih dari 50 persen listrik kami untuk pengguna akhir berasal dari energi terbarukan, hidrogen, tenaga surya, angin, dan nuklir,” ujar Wang menambahkan.

Oleh karena itu, menurut Wang kerja sama di bidang energi hijau sangat berpeluang dilakukan antara Tiongkok dan ASEAN, sebagai upaya meningkatkan transisi energi. “Sejak tiba di Indonesia, saya melihat banyak kendaraan listrik di sini yang diproduksi oleh Tiongkok, dan mungkin diproduksi di sini, tetapi dari Tiongkok,” ujarnya.

Wang menilai, kerja sama untuk pengadaan sistem penyimpanan energi terbarukan, merupakan peluang yang bisa dilakukan oleh ASEAN dan Tiongkok. Sehingga, energi yang dihasilkan dapat menyediakan listrik yang stabil.

“Di sini sekarang kita dapat melihat banyak, proyek tenaga surya, angin, atau beberapa proyek listrik lainnya. Tetapi masalah bagaimana menyediakan listrik yang stabil, adalah kunci untuk membuat energi terbarukan lebih terjangkau dan diterima oleh industri,” kata Dubes Wang.

“Saya tahu ada beberapa diskusi antara negara-negara ASEAN dan Tiongkok mengenai sistem penyimpanan baterai dan proyek-proyek terkait lainnya. Saya pikir ini adalah hal yang dapat kita lakukan lebih banyak lagi di langkah selanjutnya.”

Perang di Timur Tengah yang berdampak pada pemberian akses di Selat Hormuz oleh Iran, menyebabkan sejumlah negara mengalami krisis bahan bakar. Pasalnya, Selat Hormuz merupakan jalur vital untuk berlayarnya kapal-kapal pengangkut bahan bakar dari negara-negara Teluk.

Filipina menjadi salah satu negara di ASEAN yang telah mengumumkan krisis energi, sebagai dampak perang di Timur Tengah. Dalam pengumuman yang disampaikan Presiden Ferdinand Marcos, Rabu, 25 Maret 2026, status krisis energi akan berlaku selama satu tahun.

Filipina mengimpor 98 persen minyaknya dari Teluk, menjadi negara pertama yang menyatakan keadaan darurat energi. Setelah harga solar dan bensin lokal naik lebih dari dua kali lipat di negara itu sejak perang pecah pada 28 Februari lalu. (*)