ranjana.id – Tangerang | Terdapat 150 satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah Kota Tangerang Selatan (Satdikdasmen Tangsel) tidak aktif dalam program Adiwiyata. Bahkan, alasan dan kendalanyapun tidak jelas terperinci.
Sekolah Adiwiyata adalah kepedulian dan budaya lingkungan bersih, sehat dan indah. Program tersebut dikukuhkan langsung oleh pemerintah.
“Kondisinya mereka vakum. Tidak melanjutkan dengan berbagai macam alasan,” ujar Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan, Kamis, 29 Oktober 2026.
Alasan ratusan sekolah Adiwiyata vakum, menurut Pilar, misalkan masalah operasional, kekurangan guru penggerak, fasilitas dan lain sebagainya. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu terus mendorong agar satuan pendidikan yang vakum dapat melanjutkan program Sekolah Adiwiyata.
Pendidikan generasi masa depan kita harus dimulai dari rumah dan sekolah PAUD, SD, SMP. “Supaya ke depan kita menghasilkan masyarakat yang mencintai dan pro terhadap lingkungan hidup,” kata dia.
Kepala Bidang Bina Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel, Doni Herawan menyebutkan tercatat ada sekitar 150 sekolah Adiwiyata tidak aktif. Namun, masih ada sekolah yang aktif dan atau belum mengikuti program tersebut.
“Sebenarnya hanya masalah kebiasaan. Ada sekolah yang ikut tingkat kota tapi tidak lulus ke provinsi hingga level nasional,” ucapnya.
Doni menuturkan pihaknya mencoba melakukan pembinaan terhadap sekolah-sekolah Adiwiyata yang vakum. Pemicu tidak aktif ada kepala sekolah dan atau guru penggerak yang pindah tugas.
Ia memastikan program Adiwiyata bukan bicara soal pembiayaan, tapi komitmen sekolah. Contohnya membawa tempat air minum atau tumbler, cuci tangan sebelum kegiatan belajar mengajar dan usai jam istirahat.
“Juga membiasakan buang sampah. Tidak ada syarat khusus, yang penting komitmen kepala sekolah,” ujar Doni. (*)






