ranjana.id – Jakarta | Pemerintah mulai menyiapkan strategi agar tenun Indonesia mendapat pengakuan UNESCO. Salah satu prioritas utama ialah menyelesaikan basis data nasional yang memuat teknik, motif, sejarah, persebaran, serta komunitas perajin.
Kementerian Kebudayaan bersama Cita Tenun Indonesia (CTI) membahas persiapan tersebut dalam sebuah pertemuan. Pertemuan berlangsung di Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.
CTI telah menyiapkan dokumen awal pengusulan dan menghimpun dukungan komunitas dari sejumlah daerah. Pengajuan dirancang mencakup tenun Indonesia secara luas, bukan hanya satu jenis atau teknik tertentu.
Ragam yang akan didokumentasikan antara lain tenun ikat, dan songket, rangrang. Adapun sobbi serta teknik lain yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia.
Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon mengatakan strategi pengusulan masih perlu dimatangkan dengan memperhatikan mekanisme UNESCO. Pilihannya antara lain nominasi bersama atau perluasan pengakuan yang sudah ada.
Menurutnya, kekuatan tenun Indonesia bukan hanya terletak pada motif dan teknik. Tetapi juga pada tradisi yang masih dijalankan masyarakat.
“Karena itu, penyusunan dokumen pengajuan perlu berjalan seiring dengan penguatan data, pengetahuan. Adapun bukti mengenai keberadaan serta keberlanjutan tradisi tenun di berbagai daerah,” ucapnya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Rabu, 14 Oktober 2026.
Pemerintah dan CTI juga menilai Indonesia membutuhkan basis data tenun yang terintegrasi. Data lama akan ditelusuri kembali untuk memperkuat dokumentasi mengenai teknik, motif, sejarah, persebaran, komunitas dan perajin.
Pengurus Bidang Pengendalian Mutu CTI Sjamsidar Isa mengatakan pengusulan diarahkan untuk menggambarkan kekayaan tenun Indonesia secara keseluruhan. “Tenun Indonesia memiliki keragaman teknik yang sangat kaya, karena itu, kami ingin mendorong pengusulan tenun secara keseluruhan ke UNESCO,” ujarnya.
Menurutnya, keragaman teknik yang berkembang di berbagai daerah perlu ditampilkan secara utuh dalam dokumen nominasi. Selain basis data digital, pemerintah mendorong penerbitan buku dan dokumentasi tenun daerah.
Perhatian khusus diberikan kepada jenis tenun yang menghadapi risiko kepunahan. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat digunakan masyarakat, peneliti, pelaku budaya, desainer hingga generasi muda.
“Kita perlu memperkuat dokumentasi dan memperbanyak literasi tentang wastra Indonesia. Berbagai jenis tenun dari daerah perlu diangkat melalui buku dan dokumentasi yang baik agar kekayaan budaya tersebut semakin dikenal,” ujarnya.
Kementerian Kebudayaan dan CTI akan mematangkan dokumen, strategi nominasi UNESCO, basis data, serta kompetensi profesi wastra nasional. Dengan demikian, proses pengusulan tenun Indonesia ke UNESCO masih berada pada tahap persiapan dan pematangan strategi. (*)






