ranjana.id – Jakarta | Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mencatat penyaluran pembiayaan dan tabungan Rp584,3 miliar kepada 25.378 UMKM melalui Promise to Impact fase kedua (Promise II Impact). Program ini bertujuan memperluas inklusi keuangan sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi pelaku usaha.
Manajer Proyek Promise II Impact ILO, Djauhari Sitorus, mengatakan program tersebut memperkuat kesehatan finansial UMKM dan rantai pasok komoditas daerah. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah penerima akses keuangan, tetapi juga perubahan yang dirasakan masyarakat.
“Yang terpenting bukan hanya berapa banyak orang yang memperoleh akses. Tetapi perubahan perilaku dan ketahanan ekonomi yang mereka rasakan,” ujar Djauhari, dalam Media Briefing ILO, di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.
Selain memperluas akses pembiayaan, program tersebut mendukung digitalisasi enam Bank Perekonomian Rakyat (BPR). Penguatan digitalisasi ini berpotensi memberikan dampak positif bagi lebih dari 300.000 UMKM.
Di sektor peternakan sapi perah, Promise II Impact bekerja sama dengan Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan, Jawa Barat. Melalui sistem Enterprise Resource Planning (ERP), sebanyak 2.054 peternak telah terintegrasi dan memperoleh dukungan pembiayaan.
Penyaluran pembiayaan untuk sektor tersebut mencapai Rp11,6 miliar. Dukungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok komoditas susu sapi perah.
Untuk komoditas minyak nilam di Aceh, program ini memanfaatkan platform MyNilam guna menghubungkan berbagai pemangku kepentingan. Platform tersebut menghubungkan petani, pemerintah daerah, pusat riset, pengolah, lembaga keuangan, dan pasar.
Kolaborasi tersebut mendorong ekspor 32 ton minyak nilam senilai Rp30 miliar ke pasar global, termasuk Prancis. Program ini juga berkontribusi terhadap pertumbuhan 15 hingga 20 merek parfum lokal.
Sementara itu, di Nusa Tenggara Timur (NTT), program ini menghubungkan 216 petani rumput laut dan 57 pengepul melalui sistem ERP. Integrasi tersebut diharapkan memperkuat hubungan usaha sekaligus membuka akses pembiayaan bagi petani.
Dari jumlah petani yang terhubung, sebanyak 24 orang berhasil mengakses pembiayaan formal dari Bank NTT. Akses tersebut membuka peluang bagi mereka untuk memperkuat dan mengembangkan usaha.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menilai capaian proyek tersebut menjadi modal penting. Menurutnya, pembelajaran program dapat mendorong inklusi keuangan yang lebih berkualitas dan berdampak bagi masyarakat.
“Inklusi keuangan bukan sekadar memperluas akses. Tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ucapnya.
Dicky menyebut pengalaman dan pembelajaran dari Promise II Impact menjadi masukan berharga bagi OJK. Masukan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kebijakan dan kolaborasi ke depan.
Dengan penguatan inklusi keuangan, akses pembiayaan diharapkan semakin mendukung produktivitas UMKM. Upaya tersebut juga diharapkan memperkuat ketahanan keuangan pekerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (*)






