ranjana.id – Jakarta | Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan adanya trauma psikologis pada siswa korban keracunan program MBG di Jakarta Timur. Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menyebut anak korban keracunan MBG menolak makanan rumah sakit karena trauma melihat wadah omprengan.
“Ketika makanan disajikan dengan wadah yang sama seperti omprengan MBG. Anak-anak langsung menolak karena merasa takut,” kata Jasra saat diwawancarai awak media di Jakarta, Selasa, 7/4/2026.
Jasra mengatakan pihaknya melakukan pengawasan langsung ke SMAN 91 serta menjenguk korban di sejumlah rumah sakit di Jakarta Timur. Sidak tersebut dilakukan setelah insiden keracunan massal MBG pada 2/4/2026.
“Peristiwa ini menyebabkan 72 siswa dari empat sekolah mengalami keracunan. Empat sekolah tersebut yakni SMAN 91 Jakarta, SDN Pondok Kelapa 01, SDN Pondok Kelapa 09 dan SDN Pondok Kelapa 07,” ucap Jasra menjelaskan.
Lebih lanjut, Jasra menyebut para siswa masih menjalani perawatan di beberapa rumah sakit, di antaranya RSKD Duren Sawit, RSKD Pondok Kopi dan RS Harum. Menurut Jasra, korban keracunan MBG tidak hanya mengalami pusing dan mual hebat, tetapi juga tekanan psikologis serius.
“Anak-anak mengalami ketakutan saat melihat wadah makanan yang mirip dengan yang mereka terima sebelumnya. Ini menunjukkan adanya trauma yang perlu ditangani secara serius,” ujarnya.
KPAI juga mencatat kekhawatiran luas dari orang tua siswa setelah kejadian tersebut dan maraknya pemberitaan di media. Atas peristiwa itu, Jasra meminta BGN melakukan investigasi menyeluruh dan transparan terkait penyebab keracunan serta segera mengumumkan hasil uji laboratorium.
“Kami mendesak agar seluruh biaya pengobatan korban ditanggung sepenuhnya serta dilakukan evaluasi total terhadap sistem distribusi dan standar penyimpanan makanan dalam program MBG. KPAI meminta rumah sakit memberikan pendampingan psikologis bagi anak-anak korban keracunan untuk memulihkan trauma pasca kejadian,” ujar Jasra Putra menutup.
Sementara, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjenguk siswa korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di RSKD Duren Sawit, Jakarta. Ia memastikan pemerintah provinsi memberikan penanganan kesehatan cepat dan optimal kepada seluruh siswa yang terdampak keracunan.
“Kami bergerak cepat untuk memastikan kondisi para siswa yang terdampak segera tertangani dengan baik. Hingga saat ini, jumlah korban yang dirawat di tiga rumah sakit, yaitu RSKD Duren Sawit, RS Pondok Kopi, dan RS Harum, tercatat sebanyak 72 orang,” kata Pramono. (*)






