ranjana.id – Setiap tahunnya, umat Islam di Indonesia merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Momen ini akrab disebut dengan istilah “Lebaran”, sebuah kata yang begitu lekat dalam keseharian masyarakat Nusantara. Menariknya, istilah ini tidak dikenal dalam tradisi Arab sebagai bahasa asal Islam, melainkan merupakan kekayaan lokal yang berkembang di bumi Indonesia . Lantas, bagaimana sebenarnya asal-usul istilah yang telah mengakar kuat dalam tradisi keislaman di Indonesia ini?
Jejak Historis dari Masa Pra-Islam
Penelusuran terhadap asal-usul kata “Lebaran” membawa kita pada catatan sastrawan Sunda, M.A. Salmun, dalam artikelnya di majalah Sunda pada tahun 1954. Menurut Salmun, istilah Lebaran ternyata berakar dari tradisi agama Hindu yang berarti “selesai”, “usai”, atau “habis” . Makna ini merujuk pada selesainya masa puasa dalam tradisi tertentu.
Pandangan ini diperkuat oleh pendapat sejarawan J.J. Rizal yang mengutip pakar sastra Jawa, Poerbatjaraka. Dalam tulisannya di Majalah Tempo (2006), ia mengungkapkan bahwa istilah Lebaran bersinggungan erat dengan kata “puasa” yang juga berasal dari bahasa Sansekerta. “Pada zaman pra-Islam, lebaran itu upacara setelah 40 hari selesai menjalankan puasa. Jadi, lebaran dan puasa sama tua,” tulis J.J. Rizal .
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek, Prof Endang Aminudin Aziz, menjelaskan bahwa dalam tradisi Hindu, terdapat praktik menahan lapar dan haus yang disebut Upawasa. Tradisi inilah yang menjadi akar kata “puasa” dalam bahasa Indonesia setelah mengalami perubahan morfologis. Upawasa kemudian diakhiri dengan perayaan yang melambangkan selesainya tugas atau niat dalam menjalankan tradisi tersebut, dan perayaan inilah yang disebut sebagai “lebaran” .
Peran Wali Songo dalam Akulturasi Budaya
Salah satu teori yang menarik adalah bagaimana istilah ini kemudian diadopsi dalam tradisi Islam. Budayawan Umar Khayam menyatakan bahwa tradisi perayaan Lebaran mulai dimasukkan dalam konteks keislaman pada abad ke-15 di Jawa, tepatnya oleh Sunan Bonang, salah seorang anggota Wali Songo .
Para wali disebut sengaja memperkenalkan istilah ini agar umat Hindu yang baru memeluk Islam tidak merasa asing dengan agama yang baru dianutnya . Strategi dakwah yang akomodatif terhadap budaya lokal ini menjadi salah satu kunci keberhasilan penyebaran Islam di Nusantara, di mana nilai-nilai Islam dipadukan dengan kearifan lokal tanpa menghilangkan esensi ajarannya.
Ragam Makna dalam Bahasa Daerah
Selain teori tentang akar sejarahnya, istilah Lebaran juga memiliki beragam makna dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia, yang masing-masing memberikan warna filosofis tersendiri.
Bahasa Jawa: “Lebar” yang Berarti Selesai
Dalam bahasa Jawa, kata “lebar” berarti selesai atau usai . Masyarakat Jawa biasa menggunakan kata ini dalam berbagai konteks, seperti lebar udan (setelah hujan), lebar mangan (setelah makan), atau lebar subuh (setelah subuh) . Dari sinilah, “Lebaran” dimaknai sebagai waktu setelah selesainya ibadah puasa Ramadan.
Sebagian masyarakat Jawa juga mengaitkannya dengan ungkapan “wis bar” yang berarti “sudah selesai” . Menariknya, meski istilah lebaran populer di berbagai daerah, orang Jawa sendiri justru lebih sering menggunakan istilah “sugeng riyadin” sebagai ungkapan selamat hari raya Idul Fitri .
Bahasa Betawi: “Lebar” sebagai Keluasan Hati
Berbeda dengan makna dalam bahasa Jawa, masyarakat Betawi memaknai kata “lebar” sebagai luas . Guru Besar Universitas Indonesia, Ibnu Hamad, menjelaskan bahwa “Lebaran adalah metafora bagi orang saling mengikhlaskan, berlapang dada. Sekaligus metonimi bagi yang merayakan Idul Fitri dengan perasaan yang plong” .
Makna ini menggambarkan keluasan atau kelegaan hati setelah melaksanakan ibadah puasa, serta kegembiraan menyambut hari kemenangan . Pengucapan kata “lebar” dalam bahasa Betawi menggunakan pelafalan e seperti pada kata “meja” atau “kerja” .
Bahasa Sunda dan Madura
Sementara itu, dalam bahasa Sunda, “lebar” dapat berarti melimpah, dan dalam bahasa Madura, “lober” berarti tuntas . Semua makna ini memiliki benang merah yang sama, yaitu merujuk pada sesuatu yang berakhir, selesai, atau bahkan melimpah setelah melewati suatu masa tertentu.
Filosofi Lebaran dalam Empat Makna
Menariknya, kata “lebaran” juga dapat diuraikan menjadi empat makna filosofis yang saling melengkapi. Menurut Muhammad Sholeh dalam bukunya Etos Diaspora Muslim Indonesia, kata lebaran melambangkan empat penguraian makna :
- Lebaran bermakna selesai atau terbukanya ampunan, merujuk pada berakhirnya bulan Ramadan.
- Luberan, artinya meluber atau melimpah, yang merupakan simbol ajaran bersedekah bagi orang yang membutuhkan melalui zakat.
- Leburan, yaitu melebur kesalahan melalui saling memaafkan segala kesalahan.
- Laburan yang merupakan simbol manusia supaya selalu menjaga kesucian dan kebersihan, sebagaimana tradisi mengecat rumah (melebur) saat menyambut hari raya .
Tantangan Penelusuran Sumber Autentik
Meskipun berbagai teori tentang asal-usul istilah Lebaran telah berkembang di masyarakat, pengamat bahasa Indonesia Ivan Lanin mengungkapkan bahwa sejauh ini belum ditemukan sumber autentik tertulis yang dapat memastikan asal kata Lebaran dan kapan kata itu mulai dipakai. “Yang jelas, kata itu tidak dikenal dalam bahasa Arab dan bukan berasal dari bahasa itu,” tegas Ivan .
Menurutnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan Lebaran sebagai “hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan”. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa “etimologi atau asal kata memang kerap sulit ditelusuri” .
Terlepas dari berbagai versi mengenai asal-usulnya, istilah Lebaran telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas keislaman di Indonesia. Perpaduan antara nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal ini menghasilkan sebuah tradisi yang kaya makna.
Lebaran bukan sekadar label untuk hari raya, tetapi juga cerminan akulturasi budaya yang berlangsung harmonis selama berabad-abad. Dari akar sejarahnya yang mungkin bersinggungan dengan tradisi Hindu, adaptasi yang dilakukan para Wali Songo, hingga makna filosofis yang berkembang dalam berbagai bahasa daerah, istilah Lebaran mengajarkan kita tentang kekayaan budaya dan keluwesan Islam dalam beradaptasi dengan tradisi setempat tanpa kehilangan esensinya.
Pada akhirnya, apa pun asal-usul katanya, Lebaran tetaplah momen yang dinanti-nantikan sebagai hari kemenangan, saatnya bersilaturahmi, saling memaafkan, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. (Redaksi)






