ranjana.id – Dalam sejarah modern, dua fenomena besar selalu berjalan beriringan: peperangan skala besar dan krisis sistemik kapitalisme. Jauh dari sekadar kebetulan atau akibat dari “kegilaan penguasa”, hubungan antara perang dan krisis kapitalisme bersifat struktural. Perang bukanlah kegagalan sistem, melainkan salah satu mekanisme “penyembuhan” paling brutal yang dilakukan kapitalisme ketika sedang mengalami kejang-kejang fatal.
Kapitalisme, Mesin Krisis yang Permanen
Karl Marx, dalam Das Kapital, menjelaskan bahwa kapitalisme pada dasarnya adalah sistem krisis. Krisis bukanlah kecelakaan, melainkan cara sistem ini memulihkan tingkat keuntungan. Terlalu banyak produksi, terlalu sedikit daya beli masyarakat (karena upah ditekan), dan akumulasi modal yang berlebihan menyebabkan over-accumulation dan falling rate of profit.
Ketika krisis melanda (resesi, depresi, pengangguran massal), modal tidak bisa lagi berekspansi ke sektor sipil. Pabrik tutup, bank bangkrut, dan pasar jenuh. Pada titik inilah pintu darurat menuju perang terbuka lebar.
Perang sebagai “Solusi” Sementara bagi Kapitalisme
Mengapa kelas kapitalis dan elit negara kerap melirik perang saat krisis? Karena perang menawarkan tiga fungsi vital yang tidak bisa diberikan oleh ekonomi masa damai:
- Penghancuran Modal Berlebih
Krisis terjadi karena kelebihan kapasitas produksi dan komoditas yang tidak terserap. Perang menghancurkan infrastruktur, pabrik, persediaan barang, dan bahkan tenaga kerja itu sendiri secara masif. Pasca perang, “kekosongan” ini menciptakan ruang bagi akumulasi modal baru. Joseph Schumpeter menyebutnya creative destruction, tetapi dalam perang, unsur “destruksi”nya jauh melampaui “kreasi”. - Mobilisasi Total dan Penyerapan Tenaga Kerja
Pengangguran massal saat krisis menjadi bom waktu sosial. Perang mengubah para penganggur menjadi tentara, buruh amunisi, atau pekerja paksa. Negara membuka keran pengeluaran militer raksasa, menyerap surplus tenaga kerja dan kapasitas industri. Ekonomi perang mengubah stagnasi menjadi aktivitas sementara—meskipun untuk tujuan menghancurkan. - Redistribusi Paksa dan Penaklukan Pasar Baru
Krisis sering kali disertai dengan persaingan antar-imperialis untuk merebut kembali pasar, sumber daya, dan jalur perdagangan. Perang adalah cara paling primitif untuk “membuka” wilayah baru bagi ekspansi kapital. Invasi bukan hanya tentang tanah, tetapi tentang mengamankan bahan baku murah, tenaga kerja eksploitatif, dan zona investasi paksa.
Bukti Historis: Dari Depresi ke Perang Dunia
Kasus paling klasik adalah Perang Dunia II. Krisis Besar (Great Depression) 1929 melumpuhkan kapitalisme dunia. PDB AS turun 30%, pengangguran mencapai 25%, dan investasi ambruk. New Deal Franklin D. Roosevelt membantu, tetapi tidak mengakhiri depresi. Yang benar-benar mengakhiri depresi besar adalah mobilisasi Perang Dunia II.
Pengeluaran militer AS melonjak dari $1,5 miliar (1940) menjadi $81 miliar (1944). Pengangguran anjlok ke 1,2%. Pabrik-pabrik yang tutup hidup kembali untuk memproduksi tank dan pesawat. Perang “menyembuhkan” krisis kapitalisme AS—dengan biaya 400.000 tentara AS tewas dan 50-80 juta jiwa di seluruh dunia.
Krisis Kapitalisme Kontemporer dan Perang Modern
Meskipun perang habis-habisan seperti PD II lebih jarang terjadi karena senjata nuklir, logika dasar yang sama tetap berjalan. Ketika kapitalisme global mengalami krisis struktural (2008, 2020, dan resesi berulang), maka tekanan untuk melakukan “solusi perang” meningkat—meskipun dalam bentuk baru:
- Perang proksi: Seperti Ukraina, Gaza, atau konflik di Afrika. Negara-negara maju mengirim senjata, bukan tentara, sehingga industri militer mereka tetap berputar tanpa biaya politik korban jiwa massal di dalam negeri.
- Militerisasi ekonomi permanen: Amerika Serikat, dengan anggaran militer lebih dari $800 miliar per tahun, menjadikan kompleks industri militer sebagai stimulus permanen anti-krisis.
- Perang dagang dan sanksi: Sebagai bentuk “perang dingin” yang menghancurkan ekonomi pesaing, membuka pasar paksa, dan mengalihkan perhatian dari krisis domestik.
Tanpa Mengubah Logika Sistem, Perang Akan Terulang
Perang bukanlah anomali dalam kapitalisme; ia adalah kembaran gelap dari akumulasi modal. Setiap kali sistem kehabisan cara untuk menghasilkan keuntungan secara damai, ia cenderung melompat ke cara kekerasan. Rosa Luxemburg, dalam Akumulasi Modal, sudah memperingatkan bahwa kapitalisme membutuhkan lingkungan non-kapitalis untuk berekspansi, dan ketika lingkungan itu habis, ia akan menghancurkannya—dan dirinya sendiri—melalui perang.
Selama krisis tidak diselesaikan dengan transformasi sistem yang adil (redistribusi radikal, dekomodifikasi kebutuhan dasar, dan perencanaan demokratis), maka perang akan terus menjadi “obat penenang” paling mematikan bagi kejang-kejang kapitalisme.
Karena kapitalisme tidak bisa mati secara wajar, ia akan berusaha membunuh dunia bersama-sama dengan kematiannya. (Redaksi)






