ranjana.id – Lampung Timur | Satu tahun terakhir menjadi babak baru yang penuh optimisme bagi Kabupaten Lampung Timur. Di bawah kepemimpinan Bupati Hj. Ela Siti Nuryamah, S.Sos., M.A.P. dan Wakil Bupati Hi. Azwar Hadi, S.E., M.Si. periode 2025-2030, kabupaten yang dikenal dengan julukan “Bumei Tuwah Bepadan” ini tengah bertransformasi besar-besaran.
Fokus utama pembangunan kini tidak lagi hanya sekadar mengejar angka pertumbuhan, melainkan membangun keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan kelestarian alam melalui visi Kabupaten Konservasi dan Berkelanjutan (KKB).
Keberhasilan dan langkah strategis yang telah dicapai dalam masa awal kepemimpinan mereka sejak dilantik oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 lalu:
1. Visi KKB: Bukan Sekadar Konservasi, Tapi Transformasi
Langkah awal yang paling fundamental adalah pencanangan Grand Design KKB Lampung Timur 2026.
Bupati Ela Siti Nuryamah menegaskan bahwa inisiatif ini lahir dari semangat untuk menjaga kekayaan hutan, pesisir, dan sumber daya alam yang melimpah di Lampung Timur.
Visi besarnya adalah menjadikan Lampung Timur sebagai daerah yang Hijau, Inklusif, dan Berdaya Saing, di mana kelestarian lingkungan menjadi fondasi utama pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat.
2. Revolusi Pengelolaan Sampah: Dari Limbah Menjadi Energi
Salah satu keberhasilan mencolok adalah program Hilirisasi Sampah melalui Ekonomi Sirkular. Pemerintah Kabupaten telah mulai membangun pusat konversi sampah menjadi energi alternatif atau TPST-RDF dengan kapasitas mencapai 50 ton per hari.
Program ini tidak hanya bertujuan membersihkan lingkungan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja hijau bagi sekitar 1.500 orang dan memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat melalui bank sampah di 24 kecamatan. Targetnya sangat ambisius: mengurangi emisi karbon daerah hingga 25.000 ton CO2e per tahun.
3. Memulihkan Napas Pesisir dan Hutan
Lampung Timur memiliki garis pantai yang panjang namun rentan terhadap abrasi. Melalui Satgas Mangrove, pemerintah telah menggerakkan penanaman 100.000 bibit mangrove di kecamatan prioritas seperti Labuhan Maringgai, Pasir Sakti, dan Marga Sekampung.
Di sektor perhutanan, keberhasilan terlihat pada pengembangan Perhutanan Sosial berbasis Energi Hijau. Dengan menanam 26.000 pohon Kaliandra di 44 desa, masyarakat kini memiliki sumber energi biomassa lokal sekaligus meningkatkan tutupan vegetasi hutan yang sempat terdegradasi.
4. Menjaga Way Kambas dan Peluang Perdagangan Karbon
Sebagai rumah bagi gajah Sumatera, Taman Nasional Way Kambas (TNWK) mendapat perhatian khusus. Kepemimpinan Ela-Azwar telah menetapkan 23 desa penyangga TNWK sebagai wilayah prioritas konservasi melalui skema Voluntary Carbon Village.
Langkah ini merupakan terobosan cerdas; desa-desa tersebut kini tidak lagi hanya menjadi “penonton”, melainkan pemain utama dalam menjaga hutan sambil membuka akses ekonomi baru dari perdagangan karbon dan ekowisata konservasi.
5. Transisi Energi Bersih untuk Rakyat
Pembangunan infrastruktur energi juga mengalami kemajuan pesat. Sebanyak 2 MWp PLTS Atap telah dipasang di sekolah-sekolah, puskesmas, dan gedung publik untuk mengurangi biaya operasional sekaligus menurunkan emisi.
Selain itu, program Gas Kota telah diperluas ke 9 kecamatan, memberikan akses energi yang lebih bersih, murah, dan terjangkau bagi rumah tangga rentan serta UMKM.
6. Membangun Generasi Hijau Melalui Pendidikan
Keberhasilan pembangunan tidak akan bertahan lama tanpa SDM yang peduli. Oleh karena itu, diluncurkanlah program Green School Index (GSI) untuk menilai penerapan prinsip keberlanjutan di ratusan sekolah (SD dan SMP) se-Lampung Timur.
Dengan membentuk 1.000 kader ekologi desa dan para “Duta Lingkungan Sekolah”, pemerintah sedang menanamkan nilai-nilai gaya hidup hijau di setiap lini kehidupan masyarakat.
CAPAIAN STRATEGIS
Melalui visi Kabupaten Konservasi dan Berkelanjutan (KKB), pemerintah daerah berupaya mengubah tantangan ekologis menjadi peluang ekonomi hijau yang nyata.
Perbandingan capaian strategis antara kondisi sebelumnya dengan hasil pembangunan yang diharapkan ke depan:
1. Transformasi Pengelolaan Sampah: Dari Tumpukan Menjadi Energi
Sebelumnya: Lampung Timur menghadapi tantangan tingginya produksi sampah yang hanya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa pengelolaan nilai tambah.
Sekarang: Di bawah kepemimpinan Ela-Azwar, pemerintah menargetkan reduksi timbulan sampah sebesar ≥40% dari baseline tahun 2024.
Langkah konkretnya adalah pembangunan TPST-RDF berkapasitas 50 ton per hari yang mampu mengonversi sampah menjadi energi alternatif, sekaligus menciptakan 1.500 lapangan kerja hijau bagi masyarakat.
2. Memulihkan Pesisir: Dari Abrasi Menjadi Benteng Hijau
Sebelumnya: Kawasan pesisir Lampung Timur mengalami degradasi mangrove yang parah dan ancaman abrasi yang terus meluas.
Sekarang: Pemerintah telah menginisiasi penanaman 100.000 bibit mangrove di tiga kecamatan prioritas (Labuhan Maringgai, Pasir Sakti, dan Marga Sekampung). Selain melindungi pesisir, inisiatif ini diproyeksikan meningkatkan daya serap karbon biru hingga ±10.000 ton CO2e per tahun.
3. Pemberdayaan Desa Penyangga TNWK: Dari Konflik Menjadi Konservasi
Sebelumnya: Desa-desa di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK) sering kali terjebak dalam konflik manusia-satwa (gajah) dan tekanan terhadap lahan hutan akibat keterbatasan ekonomi.
Sekarang: Sebanyak 23 desa penyangga telah ditetapkan sebagai wilayah prioritas konservasi melalui skema Voluntary Carbon Village. Perubahan ini mengubah pola hubungan masyarakat dengan hutan; dari yang sebelumnya merambah, kini menjadi penjaga hutan yang mendapatkan akses ekonomi baru dari perdagangan karbon dan ekowisata.
4. Transisi Energi: Dari Biaya Tinggi Menjadi Kemandirian Bersih
Sebelumnya: Instansi publik dan masyarakat sangat bergantung pada energi fosil dengan biaya operasional yang terus meningkat, serta penggunaan kayu bakar yang memicu deforestasi.
Sekarang: Pemerintah telah memasang PLTS Atap dengan total kapasitas 2 MWp di sekolah, puskesmas, dan gedung publik yang mampu mengurangi penggunaan listrik sebesar 20–35%.
Selain itu, perluasan jaringan Gas Kota di 9 kecamatan telah membantu rumah tangga rentan beralih dari kayu bakar ke energi bersih yang lebih terjangkau.
5. Ekonomi Hijau di Sektor Perhutanan
Sebelumnya: Pemanfaatan hutan rakyat cenderung berfokus pada pengambilan kayu yang tidak berkelanjutan.
Sekarang: Melalui program Perhutanan Sosial, pemerintah telah menggerakkan penanaman 26.000 pohon Kaliandra di 44 desa sebagai sumber biomassa. Hal ini tidak hanya meningkatkan tutupan vegetasi tetapi juga menciptakan pendapatan berkelanjutan melalui produksi madu dan bahan bakar hijau bagi masyarakat desa hutan.
Dengan perbandingan ini, terlihat bahwa dalam waktu singkat, Lampung Timur telah berhasil meletakkan fondasi “Warisan Hijau” (Green Legacy).
Pembangunan tidak lagi hanya tentang infrastruktur fisik, tetapi tentang menciptakan keseimbangan di mana setiap desa menjadi pusat inovasi lingkungan dan setiap warga menjadi penjaga kehidupan bagi generasi mendatang.
Penutup: Warisan Hijau untuk Masa Depan
Dalam satu tahun terakhir, kepemimpinan Ela-Azwar telah membuktikan bahwa kemandirian daerah dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab global terhadap keberlanjutan.
Melalui pendekatan kolaboratif yang mereka sebut sebagai Gotong Royong Hijau, setiap desa di Lampung Timur kini didorong untuk menjadi pusat inovasi lingkungan.
Keberhasilan ini bukan sekadar tentang angka-angka dalam laporan, melainkan tentang membangun warisan hijau (green legacy) bagi generasi mendatang agar mereka tetap bisa menikmati alam Lampung Timur yang asri dan makmur. (*)






