ranjana.id – Lampung Selatan | Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A di perairan Selat Sunda, yang secara administrasi termasuk kedalam pada wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Meskipun demikian, pengamatan Gunungapi Anak Krakatau dilakukan melalui 2 pos pengamatan gunungapi, yaitu Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Sejak 1 Juni 2026, Satelit Sentinel memperlihatkan adanya emisi gas SO2 dan anomali panas, serta pemunculan titik api di kawah sejak 10 Juni 2026. Gejala ini disertai dengan pemunculan asap dari kawah dengan intesitas cukup tinggi, dan peningkatan jumlah gempa yang beraosiasi dengan gempa vulkanik dangkal (Hembusan, Hybrid/Fase Banyak, dan Low Frequency)secara signifikan.
Dalam 2 hari terakhir (18 dan 19 Juni 2026), jumlah gempa Hembusan, Hybrid/Fase Banyak, dan Low Frequency meningkat drastis dengan rerata kejadian lebih dari 50 kali dalam setiap hari. Meskipun tidak disertai dengan peningkatan gempa vulkanik yang berasosiasi gempa dalam (Vulkanik A dan Vulkanik B) dan deformasi, peningkatan gempa yang beraosiasi dengan gempa vulkanik dangkal mengindikasikan adanya dinamika magma Gunungapi Anak Krakatau dibagian permukaan.
Menurut data yang di rilis oleh PVMBG.Selama periode tanggal 16 – 2 Juli 2026 terekam 740 kali gempa Hembusan, 24 kali gempa Harmonik, 247 kali gempa Low Frequency, 520 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, 16 kali gampa Tremor Menerus, 2 kali gempa Vulkanik Dangkal, 3 kali gempa Vulkanik Dalam, 1 kali gempa Tektonik Lokal, dan 5 kali Gempa Tektonik Jauh. Data tiltmeter Stasiun Kras, dan Lava93 periode tanggal 16 Juni – 2 Juli 2026 memperlihatkan pola fluktuatif dengan kecenderungan konstan / mendatar pada komponen Y. Sementara itu, stasiun tiltmeter Tanjung memperlihatkan pola fluktuatif dengan kecenderungan meningkat (inlfasi) dalam skala rendah.
Pada tanggal 26 Juni 2026, intensitas gempa Hembusan semakin meningkat disertai dengan peningkatan intensitas asap kawah, berwarna kelabu dengan muatan abu vulkanik
tipis mengarah ke barat – barat laut. Asap ini terdeteksi satelit yang dioperasikan oleh Volcanic Ash Advisory Centres (VAAC) Darwin, Australia. Grafik RSAM (Real time Seismic Amplitude Measurement) secara umum terlihat berfluktuatif dengan energi rendah, mulai tanggal 30 Juni 2026 cenderung memperlihatkan peningkatan dalam skala rendah
Sementara itu petugas PVMBG Pos pantau desa Argo pancuran,Suwarno Mengatakan kepada Jurnalis RRI”Pada hari Kamis, 2 Juli 2026 pukul 14:05 WIB telah terjadi erupsi Gunungapi Anak
Krakatau, Lampung dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 357 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal condong ke arah barat laut. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo.
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, maka tingkat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau dinaikan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga)terhitung mulai tanggal 2Juli 2026 pukul 16.30 WIB, dengan rekomendasi pada LevelIII (Siaga) dengan rekomendasi :Masyarakat di sekitar G. Anak Krakatau dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak
diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas G. Anak Krakatau
Suwano menambahkan.para nelayan di harapkan juga meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunungapi Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat. (*)






