ranjana.id – Bagi masyarakat Indonesia, perayaan Hari Raya Idulfitri seolah tidak lengkap tanpa kehadiran ketupat di meja makan. Hidangan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda (janur) ini bukan sekadar pelengkap opor ayam atau rendang. Di balik bentuknya yang unik dan rasa gurihnya yang khas, ketupat menyimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam yang merepresentasikan kebersamaan, pengakuan salah, dan kesucian diri setelah menjalankan ibadah puasa .
Asal-usul dan Sejarah Ketupat
Keberadaan ketupat di Nusantara telah tercatat sejak berabad-abad lalu. Berdasarkan buku Makna Ketupat dalam Upacara Telung Bulan di Denpasar karya Ni Made Yuliani dan I Ketut Wardana Yasa (2020), ketupat sudah dikenal sejak zaman Hindu-Buddha. Pada masa itu, sebagai masyarakat agraris, ketupat merupakan bagian dari bentuk pemujaan terhadap Dewi Sri, dewi kesuburan dan kemakmuran . Penyebutan kata “kupat” bahkan ditemukan dalam beberapa naskah kuno seperti Kakawin Kresnayana dan Kakawin Subadra Wiwaha .
Memasuki era penyebaran Islam di Pulau Jawa pada abad ke-15, ketupat mengalami akulturasi budaya yang signifikan. Sunan Kalijaga, salah satu anggota Wali Songo, dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan ketupat sebagai media dakwah . Beliau menggabungkan ajaran Islam dengan tradisi lokal yang sudah ada, sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat Jawa kala itu. Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah “Bakda Lebaran” dan “Bakda Kupat”. Bakda Kupat adalah tradisi perayaan yang dilakukan seminggu setelah Idulfitri, bertepatan dengan selesainya umat Islam menjalankan puasa sunnah Syawal. Tradisi inilah yang kemudian dikenal sebagai Lebaran Ketupat atau “kupatan” yang masih lestari di berbagai daerah hingga kini .
Filosofi di Balik Bentuk dan Bahan
Ketupat atau dalam bahasa Jawa disebut “kupat” bukanlah nama yang diberikan tanpa alasan. Kata ini merupakan singkatan dari “ngaku lepat” yang berarti “mengakui kesalahan”. Filosofi ini menjadi inti dari tradisi saling memaafkan di hari raya .
Selain itu, terdapat pula makna “laku papat” (empat tindakan) yang tercermin dari bentuk bungkus ketupat yang bersegi empat :
- Lebaran: Berasal dari kata “lebar” yang berarti pintu ampunan telah terbuka lebar, menandakan berakhirnya waktu puasa.
- Luberan: Berasal dari kata “luber” yang berarti melimpah, menjadi simbol ajaran untuk bersedekah dan berbagai rezeki dengan sesama, seperti melalui zakat fitrah.
- Leburan: Berasal dari kata “lebur” yang berarti habis dan melebur, yang bermakna bahwa dosa dan kesalahan akan melebur habis karena saling memaafkan.
- Laburan: Berasal dari kata “labur” atau kapur yang berfungsi untuk memutihkan dan menjernihkan. Ini dimaksudkan agar manusia senantiasa menjaga kesucian lahir dan batin .
Filosofi juga tersirat dari bahan-bahan pembentuknya. Anyaman daun kelapa muda atau janur, yang rumit, melambangkan berbagai kesalahan dan kebimbangan hati manusia . Kata “janur” sendiri juga dimaknai sebagai singkatan dari “jatining nur” (cahaya sejati) yang melambangkan hati nurani yang suci . Sementara itu, isian beras yang setelah dimasak menjadi putih bersih melambangkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan . Proses pembuatan ketupat yang rumit dan merebusnya dalam waktu lama juga diibaratkan sebagai proses pembersihan diri selama bulan Ramadan .
Keragaman Ketupat dan Hidangan Pendamping
Di Nusantara, ketupat memiliki berbagai nama lokal, seperti tipat di Bali, katupek di Minangkabau, dan katupat di Banjar . Keragaman ini juga tercermin dari cara penyajiannya. Ada dua bentuk utama ketupat, yaitu model kepal bersudut tujuh yang lebih umum, dan model jajaran genjang bersudut enam . Selain bentuk dasar, terdapat pula berbagai variasi ketupat dalam tradisi adat Jawa dan Bali seperti Kupat Sumpil, Kupat Jago, atau Kupat Glabed yang khas dari Tegal .
Ketupat umumnya disajikan dengan lauk pauk kaya rempah yang juga sarat makna. Opor ayam, dengan santannya (dalam bahasa Jawa santen), dimaknai sebagai pangapunten atau permohonan maaf . Di berbagai daerah, ketupat juga dinikmati dengan:
- Sayur Godog (khas Betawi)
- Gulai Nangka (khas Sumatera)
- Coto Makassar
- Rendang dan Kuah Labu (khas Aceh)
Ketupat sebagai Identitas Budaya
Seiring waktu, ketupat telah menjadi lebih dari sekadar makanan. Ia adalah simbol identitas budaya masyarakat maritim Asia Tenggara, yang menyebar dari Indonesia ke negara-negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, Singapura, dan Thailand Selatan . Tradisi Lebaran Ketupat yang masih dilestarikan di berbagai daerah, seperti di Kudus, Pati, atau Demak, menjadi bukti bahwa warisan budaya ini tetap hidup dan dihormati sebagai media yang mempererat tali persaudaraan .
Dari anyaman janur yang rumit hingga nasi putih yang padat, setiap sisi ketupat mengajarkan nilai-nilai luhur tentang permohonan maaf, kesucian hati, dan pentingnya menjaga silaturahmi. Jadi, saat menikmati kelezatan ketupat di hari yang fitri, kita turut merayakan kekayaan filosofi yang telah diwariskan oleh para leluhur Nusantara. (Redaksi)






