Dahulu, dunia terasa seperti dekapan hangat bagi Cinny, seekor Sogok Ontong betina berbulu dada kuning pucat yang menawan. Pemilik nama ilmiah Cinnyris jugularis ini menghabiskan hari dengan menari di antara nektar bunga yang merekah di taman-taman manusia. Hidupnya kian berwarna dalam romansa bersama Nara, pejantan gagah bermahkota hijau mengkilap dan sapuan kuning intens yang mencolok. Keduanya kerap terbang berkejaran, membelah jaring-jaring cahaya matahari yang menyelinap di balik rimbun dedaunan.
Bagi mereka, setiap kuntum bunga adalah altar cinta. Mereka akan hinggap berpasangan di kelopak kembang sepatu yang merekah, saling bersentuhan paruh sejenak sebelum menyesap nektar manis yang masih dingin oleh embun. Dunia saat itu terasa seperti sebuah rahasia yang indah, di mana aroma tanah basah dan wangi serbuk sari menjadi musik latar bagi kehidupan mereka yang tenang.
“Lihat, Cinny,” bisik Nara dengan lembut saat mereka bertengger di pucuk pohon kersen yang rindang. “Selama bunga-bunga ini mekar, kita tidak akan pernah kekurangan alasan untuk menari.”
Cinny membalasnya dengan kicauan merdu, menyentuhkan paruhnya ke kepala Nara dengan sayang. “Tentu saja, Nara. Dan bukan hanya untuk kita.”
Nara menunduk, menatap sebuah sarang mungil berbentuk kantung yang terbuat dari jalinan serat tumbuhan dan lumut, tersembunyi aman di balik dedaunan lebat. Di dalamnya, tampak tiga butir telur kecil berwarna keputihan dengan bintik-bintik cokelat.
“Kau pikir mereka akan menyukai dunia ini?” tanya Nara, suaranya terdengar cemas namun penuh harap. “Dunia yang penuh dengan rasa nektar kembang sepatu dan angin sepoi?”
Cinny mengepakkan sayapnya sedikit, seolah ingin merangkul Nara dan sarang mereka. “Mereka akan menyukainya, Nara. Aku berjanji.”
“Kita harus mengajari mereka cara membedakan nektar yang paling manis,” kata Nara, matanya berbinar membayangkan masa depan.
“Dan aku,” timpal Cinny dengan bangga, “akan mengajari mereka lagu fajar yang paling nyaring, agar seluruh hutan tahu bahwa anak-anak kita telah bangun.”
Cinny menyandarkan tubuhnya ke bahu Nara. “Janji padaku, Cinny. Apapun yang terjadi, kita akan menjaga mereka. Kita akan memastikan sayap mereka tumbuh kuat untuk menjelajahi langit ini.”
Cinny menatap Nara dalam-dalam, sebuah janji suci terukir di hati kecilnya. “Aku janji, Nara. Di atas setiap kelopak bunga dan di bawah saksi matahari pagi, aku berjanji akan melindungi kalian. Tidak akan kubiarkan bahaya apapun menyentuh sarang ini.”

Mereka terdiam sejenak, menikmati kehangatan janji itu, tidak menyadari bahwa di kejauhan, bayang-bayang kegelapan mulai mendekat.
Dibalik tempat yang senyap, beberapa pemburu datang membawa maut yang tak bersuara. Di dahan-dahan kayu pemburu mengoleskan pulut, perekat mematikan yang tampak seperti getah biasa. Sementara diantara pohon-pohon tinggi beberapa orang memasang jaring perangkap.
“Jangan hinggap di sana, Kutilang!” teriak Cinny terlambat. Ia hanya bisa menonton dengan ngeri saat temannya mengepakkan sayap dengan liar, namun kakinya justru semakin terjerat erat pada ranting yang lengket. Di sudut lain, jaring kabut nilon yang nyaris tak kasat mata membentang luas di antara pepohonan. Burung-burung yang terbang panik terperangkap di dalamnya, tergantung tak berdaya layaknya buah yang busuk sebelum waktunya. Suasana hutan berubah mencekam. Setiap kepakan sayap bisa berarti akhir dari segalanya, dan setiap kicauan adalah undangan menuju sangkar besi yang dingin.
“Cukup!” teriak Cinny di depan kawan-kawannya yang kini bersembunyi di balik dahan beringin yang meranggas. Mata kecilnya yang dulu bersinar kini penuh dengan amarah yang pedih. “Kalian lihat apa yang mereka lakukan pada cinta kita? Mereka memasang jebakan di setiap jengkal napas kita!”
“Tapi apa yang bisa kita lakukan, Cinny? Kita terlalu mungil untuk melawan,” cicit seekor Sogon muda dengan sayap gemetar, matanya sesekali melirik ke bawah, takut ada manusia yang mengintai.
Suasana hutan mencekam mengiringi kesedihan Cinny beserta keluarganya. Cahaya matahari kesulitan menembus dedaunan karena asap tipis mulai masuk. Burung-burung Sogon dan beberapa jenis lain berkumpul di dahan-dahan bawah pohon beringin tua, tubuh mereka gemetar, ketakutan memancar dari mata-mata kecil mereka setelah menyaksikan perburuan brutal dengan pulut dan jaring.
Cinny, dengan bulu yang sedikit acak-acakan namun matanya menyalang tajam, terbang ke dahan tertinggi di tengah perkumpulan itu. Ia tidak lagi berkicau merdu. Suaranya parau, penuh penekanan.
“Semuanya! Dengarkan aku!” teriak Cinny, membungkam cicitan ketakutan gerombolan itu.
Seekor Sogon betina tua bersuara, “Untuk apa berkumpul, Cinny? Manusia-manusia itu… mereka ada di mana-mana. Pulut mereka… jaring mereka… Nara juga anak-anak kita banyak yang hilang!” Suaranya pecah menjadi isak tangis.
“Aku tahu!” balas Cinny, dadanya berdenyut menahan perih menyebut nama Nara. “Aku melihatnya. Kita semua melihatnya. Dan itulah alasannya kita ada di sini.”
“Kita harus lari, Cinny! Pindah ke hutan seberang,” usul seekor burung madu muda.
“Hutan seberang?” Cinny menunjuk ke arah cakrawala yang kini dipenuhi deretan bangunan beton. “Hutan seberang sudah menjadi batu! Tidak ada tempat lari lagi. Ini rumah kita, dan mereka menghancurkannya, meracuni bunga-bunganya, dan menangkap kita seperti hama!”
Suasana menjadi riuh rendah oleh perdebatan ketakutan.
“Lalu apa? Kita menyerah? Menjadi mainan di sangkar sempit sampai mati bosan?” Cinny menukik turun, hinggap di dekat Sogon muda yang paling gemetar. “Kalian mau itu?”
Burung-burung itu menggelengkan kepala serempak.
Cinny kembali ke dahan atas. “Kalau begitu, kita harus melawan. Tapi bukan dengan paruh dan cakar kecil kita. Kita lawan dengan apa yang paling mereka inginkan dari kita.”
“Apa?” tanya burung-burung serempak.
“Kehadiran kita. Kicauan kita. Dan penyerbukan yang kita lakukan,” tegas Cinny. “Mulai hari ini, di bawah kepemimpinanku, kita Mogok Nektar Alami.”
Keheningan melanda. Mogok makan adalah keputusan bunuh diri.
“Cinny, kau gila? Kita akan mati kelaparan dalam hitungan hari tanpa nektar bunga!” seru seekor burung gereja yang ikut menyimak.
“Kita tidak akan mati kelaparan, kita akan meracik sendiri!” sahut Cinny, suaranya mantap. “Kita kumpulkan embun pagi paling murni, kita cari buah-buah hutan liar yang tersisa di pedalaman, kita campur. Itu akan memberi kita energi, walau tidak senikmat nektar taman manusia. Tapi itu bebas dari pulut, bebas dari jaring!”
Burung-burung saling berpandangan, ragu namun mulai tertular keberanian Cinny.
“Pikirkan anak-anak kita yang belum menetas,” suara Cinny melunak namun tajam. “Apakah kalian ingin mereka tumbuh di dunia di mana setiap bunga adalah jebakan? Atau di dunia di mana mereka bisa terbang bebas, walau harus berjuang mencari makan sendiri?”
Si Sogon muda yang tadinya gemetar, perlahan menegakkan tubuhnya. “Aku… aku tidak mau masuk sangkar. Aku ikut kamu, Cinny.”
“Aku juga!” seru yang lain. “Aku ikut!”
Cinny menatap mereka satu per satu, rasa bangga membuncah di dadanya. “Bagus. Kita tunjukkan pada mereka. Bahwa biarpun kita mungil, kita punya harga diri. Kita tidak bisa dibeli dengan nektar beracun mereka!”
“Tapi Cinny,” tanya burung tua tadi, “bagaimana jika manusia tidak peduli kita mogok?”
Cinny tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh rencana. “Mereka akan peduli saat bunga-bunga di taman mereka layu, saat buah-buah mereka mandul, dan saat hutan mereka menjadi sunyi senyap tanpa lagu kita. Mereka akan peduli saat keindahan itu hilang. Dan saat itulah… kita akan pastikan mereka mendengar suara kita yang sebenarnya.”
“Sekarang,” perintah Cinny, mengepakkan sayapnya kuat-kuat. “Hancurkan semua nektar alami yang kalian temukan di area perburuan! Jangan sisakan sedikitpun untuk mereka! Perjuangan kita dimulai sekarang!”
Dengan satu komando, ribuan burung Sogon terbang berpencaran, bukan lagi sebagai mangsa yang ketakutan, melainkan sebagai pasukan perlawanan yang dipimpin oleh keputusasaan dan harapan yang membara.
Tapi di sisi lainnya, penderitaan mulai membayangi kelompok perlawanan itu. Di sebuah ceruk pohon tua yang tersembunyi, aroma manis nektar bunga yang segar telah digantikan oleh bau masam dari racikan darurat yang mereka buat.
Cinny berdiri di depan wadah bambu kecil berisi campuran air embun, sari buah hutan yang sepat, dan lumut yang ditumbuk. Wajahnya tampak kuyu, bulu kuningnya tak lagi berkilau.
“Ayo, makanlah sedikit,” bujuk Cinny kepada seekor Sogon muda yang terbaring lemah di ranting. “Ini akan memberimu tenaga.”
Burung muda itu mencoba menyesap racikan itu, namun segera memuntahkannya. “Pahit, Cinny… ini tidak seperti nektar kembang sepatu. Kepalaku pusing, sayapku terasa seperti batu.”
Tak jauh dari sana, seekor burung tua terbatuk payah. “Cinny, lihat sayapku… bulunya rontok. Racikan ini tidak punya ‘nyawa’ seperti nektar alami. Kita sedang perlahan mati.”
Tiba-tiba, seekor burung pembawa pesan mendarat dengan napas tersengal. “Cinny! Di dahan bawah… si sogon Kecil… dia sudah tidak bergerak lagi. Dia mati dalam tidurnya.”
Suasana seketika hening. Keheningan yang menyakitkan.
“Apa yang kita lakukan, Cinny?” tanya burung lain dengan suara gemetar. “Korban terus berjatuhan. Apakah perlawanan ini sebanding dengan nyawa teman-teman kita?”
Cinny memejamkan mata, menahan sesak di dadanya. “Kita sedang membayar harga untuk kebebasan. Tapi lihatlah ke bawah, ke taman-taman manusia itu!”
Ia menunjuk ke arah pemukiman di bawah bukit. Pemandangannya sungguh kontras. Taman-taman yang dulunya penuh warna kini tampak layu dan kecokelatan. Bunga-bunga mawar dan melati merunduk layu tanpa ada yang menyentuh serbuk sarinya. Pohon-pohon buah mulai menggugurkan bakal buah yang mandul.
“Lihat mereka!” seru Cinny dengan suara parau. “Manusia-manusia itu mulai panik. Mereka menyiram air sebanyak mungkin, tapi bunga mereka tetap mati karena tidak ada kita yang menyerbukinya! Dunia mereka mulai sunyi, sama seperti hati kita yang berduka.”
“Tapi kita juga sekarat, Cinny!” teriak seekor burung betina.
“Benar,” jawab Cinny lembut namun tegas. “Tapi setidaknya kita mati sebagai pejuang, bukan sebagai mainan di dalam sangkar. Namun, aku tidak akan membiarkan kematian kawan-kawan kita sia-sia. Jika mereka tidak bisa melihat penderitaan kita melalui taman yang layu, mereka harus membacanya melalui kata-kata kita.”
Cinny mengambil sebuah kelopak bunga kamboja putih yang mulai mengering. Dengan paruhnya yang pecah-pecah karena kurang nutrisi, ia mencelupkannya ke dalam getah merah dari pohon jati.
“Aku akan menulis surat,” bisik Cinny. “Surat terakhir. Jika ini tidak berhasil, maka biarlah sejarah mencatat bahwa kita pernah ada, dan kita pernah melawan.”
Burung-burung yang sakit itu mendongak, menatap pemimpin mereka dengan sisa-sisa harapan di mata mereka yang mulai meredup. Mereka tahu, saat ini adalah pertaruhan antara hidup, mati, dan harga diri.
Cinny berdiri di dahan beringin yang paling tinggi, tubuhnya gemetar hebat. Dadanya naik turun, berjuang menghirup udara yang terasa makin berat karena paru-parunya tak lagi mendapat asupan nutrisi yang layak. Di bawahnya, belasan rekannya terkulai lemas, dan beberapa lainnya telah kaku membeku.
Ia memandang selembar kelopak bunga kamboja putih yang lebar di antara cengkeraman kakinya yang kurus. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencelupkan ujung paruhnya ke dalam getah merah pohon jati, warna yang menyerupai darah, namun merupakan tinta dari lubuk hatinya.
“Tolong… pegangi kelopak ini,” bisik Cinny pada seekor burung kolibri yang masih cukup kuat.
“Cinny, kau terlalu lemah. Istirahatlah,” ujar kolibri itu iba.
“Tidak,” tegas Cinny. “Jika aku mati sekarang, rahasia penderitaan kita akan terkubur bersamaku. Manusia harus membaca ini.”
Cinny mulai menggoreskan kata demi kata. Setiap goresan adalah rasa sakit, setiap huruf adalah air mata yang tak bisa ia teteskan.
“Kepada Engkau, Manusia yang Masih Memiliki Hati…”
“Mungkin kau tak lagi mendengar kicau fajar kami, karena suara kami telah habis tercekik jaring dan pulutmu. Mungkin tamanmu kini layu dan kecokelatan, karena kami tak lagi berani menyentuh bunga yang kau jadikan jebakan.
Ketahuilah, saat ini kami sedang sekarat. Bukan karena kami membencimu, tapi karena kami merindukan kebebasan yang kau rampas. Kami memilih mati kelaparan di dahan pohon ini daripada mati dalam penjara emasmu. Kami merindukan anak-anak kami terbang tanpa takut tertusuk duri besi.
Jika esok kau bangun dan dunia terasa sunyi, itu adalah tanda bahwa kami telah pergi selamanya. Namun jika kau masih ingin melihat warna kuning sayap kami menari di bawah matahari, tolong… hancurkan sangkarmu, buang pulutmu, dan biarkan kami menjadi sahabatmu kembali, bukan tawananmu.
Kami hanya ingin pulang ke langit. Izinkanlah kami membantu bungamu bermekaran sekali lagi.”
Cinny mengakhiri tulisannya dengan jejak kaki kecilnya di pojok kelopak. Ia menoleh ke arah rekan-rekannya yang tersisa, yang menatapnya dengan tatapan sayu namun penuh hormat.
“Bawa surat ini,” perintah Cinny pada burung-burung yang masih bisa terbang. “Jangan jatuhkan di hutan. Jatuhkan di tangan anak-anak manusia, di jendela rumah mereka, di tengah pasar yang ramai. Biarkan angin membawa jeritan diam kita ke seluruh dunia.”
“Bagaimana denganmu, Cinny?” tanya si Sogon muda sambil terisak.
Cinny tersenyum tipis, menatap langit senja yang mulai meredup. “Aku akan tetap di sini, menjaga mereka yang sudah mendahului kita. Pergilah… jadikan kematian kawan-kawan kita sebagai jembatan menuju kehidupan yang baru.”
Dengan kepakan sayap yang berat namun penuh tekad, ribuan burung Sogon terbang menyebarkan kelopak-kelopak pesan itu ke penjuru kota. Layaknya salju di tengah musim panas, mereka terbang rendah untuk menjatuhkan surat-surat tersebut di halaman rumah, meja kafe, kantor-kantor pemerintah hingga ke tangan orang-orang yang tengah melintas, membawa pesan yang akan mengubah takdir mereka selamanya.
Di sebuah teras, seorang pemburu dan anaknya tertegun saat selembar kelopak mendarat tepat di atas perangkap pulut yang baru saja mereka pasang. Sang ayah meminta anaknya membaca pesan itu pelan-pelan, sembari matanya tertuju pada seekor Sogon kurus yang bertengger lunglai di pagar rumah mereka.
“Ayah…” bisik anak itu bergetar, “mereka lebih memilih mati kelaparan daripada kita tangkap”.
Seketika, sang ayah menghunus pisau, menyayat jaring nilon yang membentang, dan membuang kaleng pulutnya ke tempat sampah. Seperti api yang merambat cepat, pesan Cinny menjalar ke ribuan tempat lainnya, menyentuh relung nurani yang selama ini tertutup oleh ego manusia.
Dunia terhenyak. Pesan dari makhluk mungil itu menyentuh bagian terdalam hati manusia.
Gerakan besar pun lahir. Di berbagai penjuru, komunitas-komunitas manusia mulai memasang papan larangan berburu. Kebijakan pemerintah berubah. Perburuan Sogon menjadi tindakan ilegal yang dipidana. Yang paling mengharukan, pintu-pintu sangkar mulai dibuka. Ribuan Sogon kembali ke langit, disambut sorak-sorai angin.
Satu minggu kemudian, keajaiban mulai terjadi di hutan beringin tempat Cinny bertahan. Suara langkah kaki manusia terdengar, namun kali ini bukan derap sepatu pemburu.
“Cinny! Lihat!” seru Sogon muda yang kini mulai mendapatkan kembali kekuatannya.
Cinny membuka mata yang cekung. Ia melihat sekelompok manusia datang membawa bibit-bibit pohon bunga kembang sepatu, kersen, dan pucuk merah. Mereka tidak membawa senapan. Mereka membawa air dan pupuk. Di dahan-dahan pohon, manusia-manusia itu mencopot sisa-sisa pulut yang mengeras dan menurunkan jaring-jaring yang robek.
Di kota, sebuah hukum baru disahkan dengan tinta emas: Barangsiapa yang memburu Sogon akan menghadapi hukuman berat, dan taman-taman kota kini dideklarasikan sebagai suaka alam.
Adegan paling mengharukan terjadi di depan mata Cinny. Seorang anak kecil membawa sebuah sangkar bambu ke pinggir hutan. Ia membuka pintunya lebar-lebar.
“Pulanglah, manis. Maafkan kami,” ujar anak itu lembut.
Satu per satu, kawan-kawan Cinny yang selama ini terpenjara keluar dengan ragu, lalu melesat ke langit dengan kicauan yang pecah karena bahagia. Mereka membawa nektar alami yang murni dari bunga-bunga yang kini tak lagi beracun.
Tahun-tahun berlalu, dan keajaiban terjadi. Tanpa perlu dipaksa, tanaman-tanaman mulai berbuah lebat karena penyerbukan alami kembali pulih. Hutan-hutan kecil di sudut kota menghijau kembali.
Cinny kini sudah tua, namun ia masih sering terlihat di pucuk pohon tertinggi. Ia tak lagi perlu meracik makanan sendiri. Ia bersama cucu dari ketiga anaknya hanya perlu membenamkan paruhnya ke dalam nektar bunga yang manis, sambil melihat dunia yang kembali selaras, sebuah dunia di mana manusia dan burung saling menjaga dalam kemerdekaan yang sama.
Penulis Cerpen : Aji Panjalu (Sahdi Sutisna), Pemerhati Pelestarian Burung, Tinggal Di Bogor
Editor : Rifky Indrawan (ranjana.id)


