ranjana.id – Jakarta | Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengevaluasi insiden bayi nyaris tertukar di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung untuk memastikan pelayanan pasien berjalan sesuai prosedur. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan pihak rumah sakit telah mendatangi rumah keluarga pasien untuk menyampaikan permohonan maaf.
“Tim rumah sakit sudah mengunjungi rumah pasien untuk meminta maaf, begitu juga keluarga pasien meminta maaf. Ini karena kesalahpahaman ini sempat viral di media sosial,” kata Aji Muhawarman dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu, 11 April 2026.
Aji menjelaskan kejadian bermula saat seorang ibu yang hendak menyelesaikan administrasi menitipkan bayinya kepada tenaga kesehatan di poli anak. Menurutnya, tenaga kesehatan tersebut tidak secara khusus bertugas menangani bayi karena juga memiliki tanggung jawab lain di poli tersebut.
“Tenaga kesehatan di situ tidak hanya menangani bayi secara khusus bertugas di poli anak. Sehingga pekerjaannya sempat terganggu karena penitipan tersebut,” ujarnya.
Ketika sang ibu kembali untuk mengambil bayinya, kata Aji, terjadi kekeliruan sehingga bayi tersebut sempat digendong oleh orang lain. Ia menegaskan peristiwa itu menjadi pembelajaran penting bagi rumah sakit maupun pasien agar prosedur operasional standar (SOP) dipatuhi.
“Tidak ada maksud penculikan atau kejahatan. Ini murni kekhilafan dari perawat yang terjadi di lapangan. Ini menjadi pembelajaran agar SOP dijalankan dengan benar, termasuk pasien juga tidak boleh sembarangan menitipkan anaknya,” ujarnya.
Sebelumnya, Seorang ibu bernama Nina Saleha (27) membagikan pengalaman bayinya nyaris tertukar di rumah sakit melalui media sosial. Ia mengaku sempat meninggalkan bayinya sebentar, namun saat kembali mendapati bayinya sudah digendong orang lain.
Ia mengenali bayinya dari pakaian dan selimut yang dikenakan, lalu segera memanggil orang yang menggendong bayi tersebut. Perawat menyebut bayi sempat diserahkan kepada orang lain setelah Nina dipanggil beberapa kali namun tidak mendapat respons. (*)






