ranjana.id – Jakarta | Film komedi keluarga Kembar Tak Sama menghadirkan kisah saudara kembar dengan penampilan dan kepribadian berbeda. Sutradara Damar Marzuki mengangkat situasi sehari-hari sebagai sumber humor sekaligus menggambarkan dinamika hubungan keluarga.
“Challenge-nya adalah bagaimana menciptakan film komedi keluarga yang tetap menghibur,” ujarnya, Senin 26 Oktober 2026. “Apalagi industri ini menghadirkan banyak komika dan sutradara yang sudah lama berkecimpung dalam genre komedi.”
Damar mengatakan film ini tidak hanya mengandalkan dialog lucu untuk menghadirkan komedi. Karena itu, dia mengeksplorasi situasi absurd dalam kehidupan sehari-hari yang terasa dekat dengan pengalaman penonton.
Menurut Damar, cerita komedi tetap perlu menjaga emosi dan hubungan antartokoh dalam keluarga. Pendekatan tersebut membuat humor muncul dari situasi cerita tanpa menghilangkan kedekatan emosional para karakter.
“Harapannya ini tidak hanya sebagai tontonan yang lucu,” ucapnya. “Namun film ini akan benar-benar dekat bagi siapa pun yang menontonnya.”
Film Kembar Tak Sama mengeksplorasi kehidupan saudara kembar yang memiliki perbedaan meskipun tumbuh dalam keluarga yang sama. Perbedaan tersebut menghadirkan situasi komedi sekaligus persoalan identitas dalam kehidupan mereka.
Film ini membawa pesan bahwa perbedaan bukan penghalang bagi setiap anggota keluarga untuk tetap saling menerima dan mendukung. “Tidak perlu sama untuk melangkah bersama dan tidak perlu sempurna untuk disebut sebagai keluarga,” ujarnya.
Damar mengungkapkan film ini menjadi debut penyutradaraannya untuk layar lebar setelah berkecimpung di dunia teater. Dia mengandalkan pengalaman sebagai aktor, sutradara teater, dan pelatih akting untuk mengembangkan pendekatan penyutradaraan.
Penulis skenario, Joko Nugroho, menambahkan ide cerita film ini berkembang melalui diskusi bersama Executive Producer, Budi Yulianto. Mereka mencoba beberapa kemungkinan cerita tentang saudara kembar sebelum menetapkan krisis identitas sebagai konflik utama.
“Awalnya kami mencoba berbagai macam formulasi tentang saudara kembar,” ujarnya. “Hingga akhirnya ketemu premis bahwa ternyata masalahnya adalah krisis identitas.”
Joko mengatakan cerita ini menyoroti seseorang yang merasa berbeda karena tidak memiliki kemiripan fisik dengan saudara kembarnya. Hal ini memicu rasa tidak percaya diri ketika orang-orang di sekitarnya terus mempertanyakan hubungan mereka.
Diceritakan tokoh Doni merasa tidak aman karena wajahnya tidak mirip dengan saudara kembarnya. Ejekan tentang statusnya sebagai anak pungut membuat Doni mempertanyakan identitas dan posisinya dalam keluarga.
“Dari sesuatu yang bersifat sangat keluarga tetapi menjadi serius secara psikologis,” ujanya. “Karena itu kami tampilkan dengan cara yang lebih ringan supaya melahirkan komedi.” (*)






