Medan – Kegiatan sosialisasi dan diskusi tindak lanjut program desa cerdas di wilayah Provinsi Sumatera Utara yang digelar secara daring kemarin, Rabu (22/1/2025), berhasil menarik minat para peserta dari 84 desa di 5 kabupaten. Inisiatif yang digagas oleh Relawan TIK Wilayah Sumatera Utara di bawah komando Anwar Siregar, bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Sumatera Utara ini berhasil menarik perhatian sebanyak 184 peserta. Angka partisipasi yang tinggi ini menunjukkan antusiasme yang besar dari berbagai pihak terhadap pengembangan desa berbasis teknologi.
Dengan jumlah peserta yang mencapai 184 orang, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa program desa cerdas semakin mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Para peserta yang berasal dari desa-desa lokus program desa cerdas fase II dan fase III Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) ini antusias mengikuti seluruh rangkaian acara.
Kegiatan yang menampilkan empat narasumber dari Pusdaing BPI Kemendes PDT, Pengurus Pusat Relawan TIK Indonesia, Kepala Desa Wates dari Kabupaten Blitar dan Relawan TIK Sumut ini dibuka dengan sambutan hangat dari Hani Purnawanti, Ketua Umum Relawan TIK Indonesia, dan dilanjutkan oleh Drs. Iskandar Tarigan, M.Si., Kepala Bidang Pembangunan dan Pengembangan Kerjasama Ekonomi Desa, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi Sumatera Utara.
Dalam paparannya, Mujianto, S.E., M.T., dari Pusat Daya Saing (Pusdaing) Badan Pengembangan Informasi (BPI) Kemendes PDT, memberikan pemahaman mendalam tentang konsep desa cerdas. Mulai dari sejarah lahirnya program ini hingga implementasi di 3000 lokus desa, Mujianto menjelaskan secara rinci bagaimana desa cerdas dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas hidup Masyarakat desa.
Hamzah Fathoni, Ketua Bidang Program Pengurus Pusat Relawan TIK Indonesia, menyoroti pentingnya digitalisasi di desa. Hasil survei yang dilakukan oleh APDJII dan BAKTI (2023) menunjukkan bahwa masyarakat desa sangat aktif menggunakan internet. Fenomena ini, menurut Hamzah, harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat desa.
“Melalui pemanfaatan teknologi digital, desa dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengembangkan sektor pertanian dan UMKM, serta memperbaiki tata kelola pemerintahan desa”, lanjut Hamzah.
Mohammad Hamid Almauludi, S.Pd.I., Kepala Desa Wates, Kabupaten Blitar, berbagi pengalaman sukses dalam mengimplementasikan program desa cerdas. Desa Wates yang telah menjadi lokus desa cerdas Fase I sejak tahun 2021 telah berhasil membangun inovasi pembangunan demplot penerapan Teknologi Internet of Things (IoT) pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa dengan dukungan dan pendampingan yang tepat, desa-desa di Indonesia dapat menjadi pusat inovasi dan pengembangan teknologi.
Wahyudi, salah satu anggota Relawan TIK Indonesia Wilayah Sumatera Utara, menekankan pentingnya membangun sistem informasi desa berbasis web. Dengan adanya sistem ini, pemerintah desa dapat menyusun perencanaan pembangunan yang lebih terarah dan transparan.
“Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat data desa, tetapi juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perencanaan pembangunan yang lebih terarah dan transparan”, ungkap Wahyudi.
Sosialisasi dan diskusi tindak lanjut program desa cerdas di Sumatera Utara ini menjadi momentum penting dalam upaya mewujudkan desa-desa yang cerdas dan berdaya saing. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, diharapkan program desa cerdas dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi Masyarakat desa. (*)