Opini  

Analisis Politik Dari Perspektif Norma Dan Budaya

ranjana.id Partai adalah sebuah perkumpulan dan serikat manusia yang ditata dan diselenggarakan berdasarkan kaidah organisasi modern. bukan paguyuban, bukan komunitas bukan perkumpulan para penghobi sesuatu hal, juga bukan tempat di mana keluarga bersenda-gurau membicarakan urusan-urusannya atau sebuah fans klub yang menjadi area berkumpulnya para pengagum sosok seseorang yang dianggap berkharisma.

Partai adalah lembaga yang dioperasikan oleh sebuah sistem kerja terlembaga dan punya derajat keistimewaan yang kuat,sehingga di sebut sebagai partai modern.

Partai modern dan terlembaga adalah salah satu pilar sistem demokrasi sebuah negara yang berdaulat .

Membangun partai kuat dan terlembaga inilah yang seharusnya menjadi agenda penting bagi penggiat politik dan para kader partai serta bangsa secara umum.

Tantangan untuk menuju kesana memang tidak ringan. Malah sangat berat. lalu apa yang mesti di pahami bagi partai politik untuk bisa mengarah ke sana…?

Memahami dan mengenali dari hambatan untuk menuju dan menjadi partai yang sehat adalah sebagai berikut :

Mesman,S.Sos, Pegiat Politik di Pro-MEG Lampung | Foto : dok. Pribadi Mesman S. Sos

Pertama, personalisasi politik yang menyangkut figur utama. Ini terjadi pada partai-partai yang motivasi kelahirannya karena figur tertentu yang dianggap sebagai magnet politik dan biasanya akan menekan pergerakan organisasi untuk penguatan kelembagaan (institusionalisasi).

Kedua, lemahnya ideologi politik dan mengemukanya sifat dan prilaku pragmatisme politik.

Elite-elite partai dan kader-kadernya tidak diikat oleh sistem cita-cita bersama, tetapi lebih kepada orientasi pribadi dan kelompok

Ketiga, lemahnya kaderisasi di partai dan inkonsistensi Partai dalam mengimplementasinya di tataran pelaksanaan yang akirnya tidak banyak yang memproduksi kader berdasarkan cita-cita ideologi partai, akan tetapi lebih banyak merekrut tokoh-tokoh yang sudah relatif jadi dan mapan serta diberi jaket partainya.

Kader partai produksi sendiri pasti berbeda dengan kader partai yang “beli jadi”. Kaderisasi adalah pilihan yang sunyi dan tidak begitu menarik, karena hampir tidak punya insentif terhadap popularitas.

Keempat, lemahnya sumber daya keuangan partai.Yang ada adalah partai yang dipimpin orang kaya dan kader-kadernya yang berkemampuan secara finansial serta mengandalkan bantuan bantuan negara.

Kelima, terawatnya budaya feodalisme politik yang tidak sejalan dengan prinsip modernitas.

Memuji patron bisa lebih menjamin mobilitas ketimbang kecakapan dan prestasi kerja.dalam bahasa rakyat MENJILAT itu lebih di kedepankan. Akibatnya gaya AKS : “Asal Ketua Senang” mampu mengalahkan meritokrasi politik.

Apalagi kalau AKS itu bertemu dengan “familiisme” dan “perkoncoan”. Bisa sempurna menyingkirkan kecakapan.

Keenam, faksionalisme dalam kepengurusan yang menjadi salah satu sumber konflik yang seringkali sukar ditemukan konsensus dan kesepakatannya. Akan makin berbahaya ketika rendahnya kepatuhan kader pada konstitusi partai. Kondisi demikian acapkali mengakibatkan rendahnya disiplin internal partai. Mudah tidak taat pada kebijakan partai.

Ketujuh, rendahnya keterikatan ideologi akibat kader partai yang tidak terproses secara baik dalam kaderisasi partai sehingga berpotensi pada melemahkan partain itu sendiri.

Akibatnya hampir selalu ada kerinduan akan kehadiran kader partai yang berasal dari kader sendiri yang dianggap bisa mengobati kekecewaan dari perjalanan politik.

Jika setiap saat yang lama bikin kecewa, dan itu bergiliran saja, pelembagaan tidak berjalan semestinya.

Tetapi yang lebih penting disadari adalah bahwa institusionalisasi itu kebutuhan yang niscaya dan wajib bagi partai ketika akan menuju partai modern .

Tanpa institusionalisasi yang sungguh-sungguh dan kontinyu, sulit terbangun partai modern yang mampu berfungsi dengan baik sbagaimana yang di harapkan oleh semua pihak.

Figur besar memang bisa menjadi energi pendorong dan penarik kereta jika, Figur besar bersedia bekerja di atas rel aturan main kelembagaan. Bukan sebaliknya, kerja kelembagaan disesuaikan dengan selera dan keinginan figur besar dengan demikian maka partai akan langgeng tidak mati seiring dengan kepergian figur besar.

 

Penulis : Mesman,S.Sos (Pegiat Politik di Pro-MEG Lampung)