ranjana.id – Bekasi | Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Bekasi membuat daerah tersebut mengalami kekeringan. Bahkan kekeringan kini semakin meluas.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi per 11 Oktober 2026 tercatat ada 373 titik mengalami kekeringan. Yaitu tersebar di 55 desa dan 15 kecamatan di Kabupaten Bekasi.
Sedangkan akibat kekeringan masyarakat mengalami krisi air bersih. Total warga terdampak sebanyak 38.022 kepala keluarga atau sekitar 112.385 jiwa membutuhkan layanan air bersih.
Ironisnya, kekeringan bukan saja berdampak pada masyarakat. Namun juga terhadap lahan pertanian yang ada di Kabupaten Bekasi.
Tercatat 539 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan. Lahan tersebut tersebar di 9 kecamatan dan 28 desa di Kabupaten Bekasi.
Ratusan Hektar Lahan Pertanian di Bekasi Terdampak Kekeringan
Akibat kekeringan, warga mengalami krisis air bersih. Dan untuk mengatasinya Pemkab Bekasi melalui BPBD Kabupaten Bekasi terus mendistribusikan air bersih ke warga terdampak.
Dari data BPBD Kabupaten Bekasi, hingga 11 Oktober 2026 tercatat ada 16.060.275 liter air bersih telah didistribusikan. Yakni terhadap warga yang mengalami dampak kekeringan di Kabupaten Bekasi.
Adapun air bersih tersebut selain dari Pemkab Bekasi juga bersumber dari berbagai pihak. Mulai dari lembaga sosial, organisasi masyarakat hingga dunia usaha.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, mengatakan pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi prioritas penanganan. Terutama bagi masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari.
“Penanganan kekeringan terus kami lakukan melalui distribusi air bersih dan air minum. Kami juga terus memperkuat koordinasi dengan berbagai unsur terkait agar kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi,” katanya.
Menurut Dodi, dukungan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam memperkuat penanganan kekeringan. Selain distribusi air, penyediaan sarana pendukung diperlukan agar bantuan dapat menjangkau masyarakat secara lebih efektif.
“Penanganan di lapangan tidak hanya berfokus pada pengiriman air, tetapi juga membutuhkan dukungan sarana dan koordinasi. Kami berupaya agar distribusi bantuan dapat berjalan sesuai kebutuhan masyarakat terdampak,” katanya.
Maksimalkan Pompa Air Cegah Kekeringan Lahan Pertanian
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat 539 hektar lahan pertanian di Kabupaten Bekasi mengalami kekeringan. Hal ini terjadi selama musim kamarau panjang yang melanda wilayah tersebut sepanjang tahun 2026.
Kabid Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi mengatakan, lahan pertanian yang terdampak kekeringan menyebar. Yakni 9 kecamatan dan 28 desa.
Ia juga menyebut, BPBD Kabupaten Bekasi selama musim kemarau bukan saja fokus membantu pemenuhan kebutuhan air bersih warga. Namun juga turut berperan membantu menangani kekeringan terhadap lahan pertanian di Kabupaten Bekasi yang terdampak kekeringan.
“Penanganan tidak hanya menyasar kebutuhan air masyarakat. Tetapi juga kami dorong untuk mendukung sektor pertanian yang terdampak kekeringan,” katanya, Rabu 7 Oktober 2026.
Menurut Dodi, penanganan kekeringan dilakukan secara terpadu melalui distribusi air. Serta dukungan terhadap sejumlah langkah teknis.
Ia menjelaskan ada beberapa langkah teknis yang dilakukan mulai dari normalisasi saluran irigasi, pompanisasi di wilayah pertanian. Hingga penertiban bangunan liar di aliran sungai serta pembersihan dan pengangkutan sampah.
“Semua upaya tersebut membutuhkan koordinasi lintas sektor. Sehingga penanganan kekeringan dapat dilakukan secara lebih efektif dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Pemkab Bekasi Pastikan Distribusi Air Bersih Berjalan Setiap Hari
Upaya mencegah kekeringan lahan pertanian juga terus diupayakan salah satunya oleh Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi. Yakni dengan mengoptimalkan pompa air bantuan pemerintah hingga memastikan saluran irigasi berfungsi.
Ketua Tim Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi. Dodo Hadi Triwardoyo mengatakan, pompa-pompa air telah digerakan. Dan difungsikan untuk membantu memenuhi kebutuhan air di sejumlah wilayah pertanian.
“Langkah-langkah yang kami lakukan di antaranya menggerakkan pompa air bantuan pemerintah. Ini untuk membantu memenuhi kebutuhan air bagi lahan pertanian yang mengalami keterbatasan pasokan,” katanya, melalui keterangannya.
Selain pengerahan pompa, kata dia, pihaknya juga mendorong normalisasi saluran irigasi. Upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah instansi yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan sumber daya air.
“Untuk normalisasi saluran, kami bekerja sama dengan PJT II, BBWS Citarum, BBWS Cilicis. Kemudian dengan Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian serta PSDA,” katanya.
Dodo mengatakan, koordinasi tersebut diperlukan agar penanganan persoalan ketersediaan air tidak hanya dilakukan di tingkat lahan pertanian. Tetapi juga mencakup jaringan saluran yang menjadi bagian dari sistem pengairan
Dinas Pertanian juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi. Upaya ini sebagai bagian dari langkah antisipasi terhadap dampak kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah.
Ia mengatakan, hasil pemantauan Dinas Pertanian, terdapat delapan kecamatan yang saat ini masuk dalam wilayah yang mengalami kekeringan. Wilayah tersebut meliputi Babelan, Sukawangi, Tambelang, Sukakarya, Karangbahagia, Bojongmangu, Cibarusah, dan Serangbaru.
“Kami juga melakukan koordinasi dengan BPBD untuk langkah-langkah penanganan. Serta antisipasi di wilayah yang terdampak kekeringan,” ujar Dodo.
Di tengah krisi air bersih, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja memastikan distribusi air bersih berjalan setiap hari. Distribusi dijalankan melalui BPBD Kabupaten Bekasi guna membantu warga terdampak kekeringan.
“Distribusi air bersih kita pastikan berjalan setiap hari. Sehingga jangan sampai ada warga tidak mendapatkan akses air bersih,” katanya.
Salah satu warga yang mendapatkan bantuan air bersih, Wati (29) mengaku sangat terbantu oleh bantuan dari air bersih dari Pemkab Bekasi. Pasalnya dengan bantuan tersebut kebutuhan air bersih di rumah tetap bisa terpenuhi.
“Alhamdulillah bantuan ini mencukupi kebutuhan air bersih kami di rumah. Di saat kondisi sumur kami kering-kerontang tidak ada air,” ujarnya.
Sekadar diketahui, Kabupaten Bekasi merupakan salah satu dari 15 daerah di Jawa Barat yang mengalami kekeringan. Bahkan Kabupaten Bekasi termasuk daerah dengan jumlah warga terdampak cukup besar dibandingkan daerah lain di Jawa Barat. (*)






