Bapanas Dorong Pemkab Solok Perkuat Peran Strategis Pangan Nasional

Deputi Penganekaragaman Konsumsi Dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, Dalam Audiensi Pemerintah Kabupaten Solok Dengan Badan Pangan Nasional di Jakarta | Foto: Bapanas

ranjana.id – Jakarta | Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendorong Kabupaten Solok memperkuat peran strategis sebagai daerah penopang pangan nasional. Solok dinilai memiliki potensi besar pada komoditas beras, bawang merah, dan hortikultura.

Hal tersebut mengemuka dalam audiensi Pemerintah Kabupaten Solok dengan Bapanas di Jakarta, Selasa 13 Mei 2026. Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, mengatakan daerah sentra pangan perlu diperkuat untuk menjaga stabilitas pasokan nasional.

“Solok punya posisi strategis untuk padi, bawang merah, dan hortikultura. Daerah seperti ini harus dijaga lahannya,” kata Andriko.

Menurutnya, perlindungan lahan pertanian menjadi aspek penting menjaga kapasitas produksi pangan. Pemerintah juga memperkuat strategi stabilisasi harga dan distribusi pangan nasional.

Bapanas mencatat stok beras nasional hingga Mei 2026 mencapai 29,33 juta ton. Surplus beras nasional tercatat sekitar 16,39 juta ton.

Sementara jagung surplus 4,35 juta ton dan gula konsumsi surplus 632 ribu ton. Kondisi tersebut disebut menjadi bagian penguatan swasembada pangan nasional.

Andriko juga menyoroti pengawasan harga pangan di daerah. Pemerintah membentuk Satgas Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan pada 2026.

Menurutnya, Sumatera Barat menjadi salah satu wilayah pemantauan harga beras nasional. Harga beras daerah dipengaruhi karakteristik beras lokal premium dan beras khusus.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok Deslirizaldi mengatakan luas sawah Solok mencapai sekitar 22 ribu hektare. Indeks pertanaman rata-rata mencapai dua kali tanam per tahun.

Ia menyebut sekitar 1.500 hektare sawah sempat terdampak bencana. Namun sebagian besar lahan kini kembali pulih dan siap panen akhir Mei 2026.

Selain padi, Solok juga menjadi sentra bawang merah nasional. Produksi bawang merah daerah mencapai sekitar 500 ton per hari.

“Untuk kebutuhan Sumatera Barat hanya lima sampai sepuluh persen. Selebihnya dikirim ke Riau, Jambi, hingga Kalimantan,” kata Deslirizaldi.

Pemerintah daerah juga mengembangkan bawang putih melalui proyek perbenihan seluas 25 hektare. Program dilakukan bersama lembaga penelitian hortikultura nasional.

Selain itu, Solok mengembangkan kopi rakyat, sapi perah, dan cetak sawah baru. Pemerintah daerah mengusulkan pengembangan sawah baru seluas 93 hektare.

Pada sektor distribusi, Pemkab Solok menjalankan program Si Abang atau Sistem Informasi Angkutan Barang Gratis. Program membantu distribusi hasil pertanian dari lahan menuju pasar.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Solok Muhammad Joni mengatakan program tersebut menekan ongkos distribusi petani. Langkah juga dilakukan untuk menjaga stabilitas harga pangan.

Dalam audiensi tersebut, Bapanas juga menyoroti pengawasan keamanan pangan segar. Pemerintah daerah diminta memperkuat pengendalian residu pestisida pada sayur dan buah.

“Pangan aman itu amanah undang-undang. Produk pangan tidak boleh membahayakan kesehatan masyarakat,” ucap Andriko.

Bapanas juga mendorong hasil pertanian Solok masuk rantai pasok program Makan Bergizi Gratis. Langkah tersebut diharapkan memperkuat pasar petani lokal. (*)