ranjana.id – Washington | Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan negara-negara agar berhati-hati dalam memberikan subsidi bahan bakar luas di tengah dampak perang Timur Tengah. Konflik tersebut dinilai memperburuk kondisi fiskal global yang sudah rapuh, di tengah kenaikan suku bunga dan harga energi.
IMF menilai banyak negara berkembang kini menghadapi tekanan ekonomi dan membutuhkan bantuan, namun subsidi BBM bukan solusi yang tepat. Lembaga tersebut menyarankan agar pemerintah lebih memilih bantuan tunai yang terarah dan bersifat sementara.
Hal tersebut bertujuan agar harga pasar tetap mencerminkan kondisi sebenarnya dan permintaan dapat menyesuaikan diri. Kepala urusan fiskal IMF Rodrigo Valdes menegaskan bahwa harga energi harus tetap diteruskan ke konsumen.
Melansir dari Reuters, Kamis, 16 April 2026, menurut Valdes, jika harga ditekan melalui subsidi, justru harga global bisa semakin meningkat. IMF juga menyoroti bahwa respons negara-negara saat ini lebih terbatas dibandingkan krisis energi pada 2022 akibat perang Rusia-Ukraina.
Hal ini disebabkan ruang fiskal yang semakin sempit serta banyaknya tekanan ekonomi yang dihadapi pemerintah. Selain itu, IMF mencatat bahwa utang global terus meningkat.
Utang tersebut diperkirakan akan mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun ke depan. IMF juga memperingatkan risiko tambahan seperti meningkatnya biaya bunga, ketidakstabilan pasar keuangan, dan fragmentasi ekonomi global.
IMF menekankan pentingnya negara-negara segera melakukan konsolidasi fiskal setelah kondisi membaik. Menurut lembaga tersebut, penundaan kebijakan hanya akan membuat penyesuaian ekonomi menjadi lebih berat di masa depan. (*)






