Trivia  

Darah Juang: Himne Perlawanan yang Abadi, Dari Jogja Untuk Indonesia

Almarhum John Tobing, Pencipta Lagu Darah Juang | Foto : Istimewa

ranjana.id Di setiap gelombang demonstrasi mahasiswa Indonesia, dari era reformasi 1998 hingga gerakan-gerakan sosial di tahun 2020-an, selalu ada satu lagu yang tak pernah absen dikumandangkan. Lagu tersebut adalah “Darah Juang”. Lebih dari sekadar alunan musik, ia adalah himne perlawanan, katalisator semangat, dan pengingat akan tanggung jawab moral kaum intelektual terhadap penderitaan rakyat. Lagu ini lahir dari kegelisahan, dibesarkan di jalanan, dan kini abadi sebagai bagian dari denyut nadi perjuangan demokrasi Indonesia.

Kelahiran dari Rahim Kegelisahan

“Darah Juang” bukanlah lagu yang diciptakan dalam kenyamanan studio musik. Ia lahir pada tahun 1991 di Yogyakarta, di tengah hiruk-pikuk aktivisme mahasiswa yang kritis terhadap rezim Orde Baru . Penciptanya adalah John Soni Tobing, seorang mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1986 yang akrab disapa John Tobing .

John menciptakan lagu ini bukan seorang diri. Saat itu, menjelang Kongres I Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY), John memainkan sebuah nada di gitarnya. Melodi itu kemudian berkembang dalam diskusi hangat bersama rekan-rekan aktivisnya, seperti Dadang Juliantara yang menuliskan lirik pertama, serta Budiman Sudjatmiko yang turut menyumbangkan ide, termasuk penggunaan kata “Bunda” dalam lirik .

Awalnya, lagu ini tidak memiliki judul. Dalam forum diskusi tersebut, muncul usulan untuk menamainya “Hymne FKMY”, namun akhirnya disepakati nama “Darah Juang” sebagai representasi semangat pengorbanan yang ingin disampaikan .

Inspirasi lagu ini murni berasal dari kegelisahan melihat realitas sosial yang timpang. “Lagu itu karena muak lihat kekayaan besar tapi tidak bisa dimanfaatkan rakyat,” ujar John Tobing . Ia menyaksikan sendiri bagaimana negeri yang kaya raya dengan “padi terhampar” dan “samudranya kaya raya” ternyata membiarkan rakyatnya hidup dalam kemiskinan, anak-anak putus sekolah, dan para pemuda desa kehilangan pekerjaan .

Bukan Milik Satu Orang, Milik Semua

Salah satu keunikan “Darah Juang” adalah proses penciptaannya yang kolektif. Selain John Tobing dan Dadang Juliantara, sejumlah nama seperti Web Warouw, Andi Munajat, FX Rudy Gunawan, hingga Budiman Sudjatmiko terlibat dalam penyempurnaan lirik agar lebih berbobot . Bahkan John Tobing sendiri tidak pernah mempermasalahkan royalti. Baginya, lagu ini adalah untuk perjuangan .

Semangat kolektif inilah yang kemudian membuat lagu ini mudah diterima dan disebarluaskan. Mahasiswa menjadi “marketer” utama, membawanya dari satu kampus ke kampus lain, dari Jogja ke seluruh pelosok Nusantara dalam setiap aksi solidaritas .

Lirik yang Membara: Antara Potret Buram dan Janji Perjuangan

Kekuatan “Darah Juang” terletak pada liriknya yang puitis namun tajam. Lagu ini dengan brilian menggambarkan kontradiksi bangsa.

Bait pembuka, “Di sini negeri kami, tempat padi terhampar, samudranya kaya raya, tanah kami subur, Tuhan,” adalah pengakuan atas kekayaan alam Indonesia yang melimpah. Namun, bait selanjutnya langsung menyajikan potret ironis, “Di negeri permai ini, berjuta rakyat bersimbah luka, anak kurus tak sekolah, pemuda desa tak kerja” . Ini adalah kritik sosial yang gamblang tentang kesenjangan dan ketidakadilan.

Puncak emosional lagu ini berada di bagian reff. “Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar” menggambarkan secara gamblang praktik-praktik ketidakadilan yang dialami rakyak kecil, seperti petani yang digusur atau buruh yang dieksploitasi . Seruan “Bunda, relakan darah juang kami, tuk membebaskan rakyat” adalah sebuah ikrar heroik. “Darah” di sini melambangkan nyali, keberanian, dan pengorbanan tertinggi . Kata “Bunda” sendiri memiliki makna ganda; bisa merujuk pada ibu kandung yang merelakan anaknya berjuang, sekaligus Ibu Pertiwi (tanah air) .

Antara Dua Versi: John Tobing dan Marjinal

Dalam perkembangannya, “Darah Juang” dikenal dalam dua arus utama. Versi asli ciptaan John Tobing adalah lagu bernada hymne, khidmat dan penuh penghayatan, yang dinyanyikan para aktivis di era 90-an .

Pada tahun 2015, grup musik Marjinal merilis ulang lagu ini dengan aransemen punk rock yang lebih keras dan enerjik melalui kanal YouTube mereka . Versi Marjinal ini sukses memperkenalkan “Darah Juang” kepada generasi baru aktivis dan mempopulerkannya kembali di kalangan anak muda, membuktikan bahwa semangat lagu ini lintas generasi.

Relevansi yang Tak Pernah Luntur

Hampir tiga dekade setelah penciptaannya, “Darah Juang” masih terus bergema . Setiap kali ada kebijakan yang dinilai merugikan rakyat, setiap kali ketidakadilan muncul ke permukaan, lagu ini akan berkumandang. Mengapa demikian? Karena esensi perjuangan yang diusungnya masih relevan.

John Tobing, sang pencipta, dengan rendah hati menyatakan bahwa lagunya akan terus bergema selama kesenjangan masih terjadi di Indonesia . Ia sendiri menjadi teladan hidup dari spirit lagu tersebut. Meski lagunya terkenal di mana-mana, John memilih hidup sederhana, mengontrak, dan tidak pernah mengambil keuntungan materi dari mahakaryanya . Dedikasinya pada nilai-nilai perjuangan membuatnya pada tahun 2024 dianugerahi penghargaan sebagai Alumni UGM Berprestasi kategori Pelopor Pelestari Kebudayaan .

“Darah Juang” adalah bukti bahwa sebuah lagu bisa menjadi lebih dari sekadar seni. Ia adalah kata putus, pengikat solidaritas, dan api yang terus menerangi jalan para pejuang keadilan. Dari Jogja untuk Indonesia, lagu ini akan terus dinyanyikan selama janji untuk membebaskan rakyat belum sepenuhnya terpenuhi. (Redaksi)