ranjana.id | Sering terbangun pada malam hari dan sulit kembali tertidur dapat menurunkan kualitas tidur. Kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu produktivitas serta meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan.
Melansir Alodokter, kondisi tersebut dikenal sebagai middle insomnia atau sleep-maintenance insomnia. Gangguan ini merupakan jenis insomnia yang membuat seseorang sulit mempertahankan tidur sehingga durasi dan kualitas istirahat menurun.
Pertambahan usia, jet lag, maupun pekerjaan dengan sistem shift juga dapat memengaruhi ritme tidur seseorang. Kondisi tersebut membuat seseorang lebih mudah terbangun pada malam hari dan sulit tidur kembali.
Berbagai gangguan fisik dapat menjadi penyebab seseorang sering terbangun saat tidur. Kondisi tersebut meliputi gangguan lambung, nyeri sendi, penyakit pernapasan, hingga penyakit saraf.
Penyakit seperti Alzheimer, Parkinson, diabetes, penyakit jantung, gangguan prostat, dan gangguan kandung kemih juga berisiko mengganggu tidur. Perubahan hormon saat menstruasi maupun menjelang menopause turut menjadi penyebab lainnya.
Selain itu, penggunaan beberapa jenis obat juga dapat memengaruhi kualitas tidur seseorang. Obat golongan beta blocker, obat asma, dan antidepresan termasuk yang dapat memicu gangguan tidur.
Gangguan psikologis juga sering dikaitkan dengan kondisi tersebut. Stres, depresi, gangguan kecemasan, gangguan bipolar, skizofrenia, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD) dapat menyebabkan seseorang sulit mempertahankan tidurnya.
Beberapa gangguan tidur juga menjadi penyebab seseorang sering terbangun pada malam hari. Kondisi tersebut meliputi sleep apnea yang menyebabkan henti napas sementara dan night terror yang ditandai rasa takut berlebihan.
Kebiasaan mengonsumsi alkohol, minuman berkafein, merokok, serta menggunakan gawai sebelum tidur juga dapat mengganggu kualitas tidur. Cahaya biru dari layar gawai dapat menurunkan produksi hormon melatonin yang berperan mengatur siklus tidur. (Redaksi)






