Menteri Kebudayaan Siapkan Sertifikasi Keris Di Museum Keris Indonesia

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Saat Memberikan Keterangan Pers | Foto: Istimewa

ranjana.id – Jakarta | Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menegaskan revitalisasi Museum Keris Indonesia tidak cukup hanya memperbaiki bangunan dan fasilitas fisik. Pemerintah juga menyiapkan penguatan tata kelola, kurasi, riset, digitalisasi, serta narasi sejarah agar museum bermanfaat bagi masyarakat.

Ia mengatakan, pengelolaan museum harus berjalan seiring perawatan koleksi dan pengembangan akses pengetahuan bagi pengunjung. Tanpa tata kelola, pembaruan fisik berisiko tidak bertahan lama dan mengurangi fungsi museum sebagai ruang edukasi budaya.

“Revitalisasi tidak boleh berhenti hanya pada pembenahan fisik bangunan dan fasilitas museum. Penguatan tata kelola, kurasi, riset, digitalisasi, serta narasi pengetahuan harus menjadi bagian penting pengembangan museum,” ujarnya saat menghadiri peresmian Museum Keris Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Jum’at, 16 Oktober 2026.

Selain penguatan pengelolaan, Museum Keris Indonesia direncanakan menjadi tempat sertifikasi bagi masyarakat yang memiliki keris. Program berbayar tersebut diharapkan membantu pemilik memperoleh pengakuan sekaligus memperluas pengetahuan mengenai koleksi keris yang dimiliki.

Museum juga akan dikembangkan sebagai pusat kegiatan edukasi melalui lokakarya, pelatihan, dan klinik pendampingan bagi masyarakat. Berbagai kegiatan itu diharapkan memperkuat peran museum dalam merawat tradisi perkerisan sekaligus menarik lebih banyak pengunjung ke TMII.

“Kami berharap museum ini dapat menjadi tempat sertifikasi keris, coaching clinic, workshop, dan berbagai kegiatan lainnya. Dengan program tersebut, museum diharapkan semakin hidup serta mampu menjangkau masyarakat yang ingin mempelajari tradisi perkerisan,” kata Fadli.

Ia menilai, potensi Taman Mini Indonesia Indah cukup besar untuk mendukung peningkatan jumlah pengunjung Museum Keris Indonesia. Pengembangan program dan layanan museum diharapkan menghadirkan pengalaman edukasi budaya yang menarik bagi berbagai kelompok masyarakat.

Pemerintah juga terus mengupayakan pemulangan keris bersejarah milik Indonesia yang berada di luar negeri melalui proses repatriasi. Sejumlah keris terkait peristiwa Puputan Bali dan Puputan Lombok telah kembali, sementara beberapa pusaka lainnya masih diupayakan pemulangannya.

“Upaya repatriasi keris bersejarah terus kami lakukan, termasuk pusaka yang berkaitan dengan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kami berharap keris-keris yang belum kembali dapat dipulangkan melalui kerja sama dengan berbagai pihak,” katanya.

Salah satu pusaka yang masih diupayakan pemulangannya ialah keris milik Pangeran Diponegoro yang disebut Nogososro. Pemerintah juga mengupayakan pemulangan keris Teuku Umar serta sejumlah keris bersejarah yang dirampas pada masa perang dan kolonialisme.

Ia menyampaikan, tim repatriasi akan terus mengagendakan upaya pemulangan pusaka, termasuk keris yang berkaitan dengan tokoh perjuangan nasional. Ia berharap pengembalian keris Pangeran Diponegoro dapat terwujud, dengan Presiden Prabowo Subianto direncanakan menerima pusaka tersebut. (*)